Kamis, 07 Juni 2012

Abses Septum


    
    Abses septum adalah salah satu kelainan septum yang sering ditemukan selain deviasi septum dan hematoma. Abses akut pada septum jarang terjadi, dapat disebabkan oleh trauma paska bedah atau sebagai komplikasi penyakit infeksi, seperti thypoid, influenza, sinus supurativ, smallpox, dan tuberkulosis. Kebanyakan juga disebabkan karena trauma yang tidak disadari pasien.
         Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian tulang dari septum terdiri dari lamina perpendikularis tulang etmoidalis disebelah atas, vomer dan rostrum sfenoid di posterior dan suatu krista di sebelah bawah, terdiri dari krista maksial dan krista palatina. Sedangkan bagian tulang rawan terdiri dari kartilago septum (kuadrangularis) di sebelah anterior dan kolumela.
            Patofisiologi abses septum nasi tergantung pada penyebab abses. Terdapat beberapa mekanisme terbentuknya abses septum nasi, yaitu penyebaran langsung sepanjang jaringan lunak misalnya pada sinusitis, infeksi pada hematom septum nasi, infeksi pada gigi, dan penyebaran melalui pembuluh vena yang berasal dari sinus kavernosus
    Abses septum nasal merupakan perkembangan dari hematom nasi. Biasanya dipicu oleh trauma yang menyebabkan terjadinya ruptur pembuluh darah kecil yang menyuplai septum nasi sehingga terbentuklah hematom yang memisahkan mukoperikondrium dari tulang rawan septum. Destruksi tulang rawan merupakan akibat dari iskemik dan nekrosis karena tekanan. Darah yang statis merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri sehingga terbentuklah abses. Proses peradangan diperberat oleh kematian sel serta pelepasan enzim proteolitik dan kolagenase.

a.      Definisi
Abses septum nasi adalah kumpulan pus yang terdapat antara tulang rawan atau tulang pada septum nasi dengan mukoperikondrium atau muko periosteum.

b.      Etiologi
Terjadinya abses septum nasi paling sering ditemukan akibat trauma pada hidung (75%). Trauma ini dapat terjadi akibat kecelakaan, perkelahian maupun olahraga. Selain trauma, abses septum nasi juga dapat terjadi akibat komplikasi dari operasi hidung. Penyebab lain adalah akibat penyebaran dari sinusitis etmoid dan sinusitis sfenoid. Di samping itu abses septum nasi dapat juga terjadi akibat penyebaran dari infeksi gigi. Organisme patogenik yang biasa menyebabkan abses septum nasi adalah Staphylococcus aureus. Pada beberapa kasus ditemukan pula adanya infeksi Pneumococcus pneumoniae, Streptococcus β hemolyticus, Haemophilus influenzae, dan organisme anaerob.

c.       Epidemiologi
Abses septum nasi jarang ditemui dan biasanya terjadi pada laki-laki. Sebanyak 74% mengenai umur di bawah 31 tahun dan 42% mengenai umur antara 3-14 tahun. Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada bagian anterior tulang rawan septum. Eavey menemukan tiga kasus abses septum nasi pada penelitian selama 10 tahun di rumah sakit anak di Los Angeles. Rumah sakit Royal Children di Melbourne, Australia melaporkan sebanyak 20 pasien abses septum selama 18 tahun dan di RS Ciptomangunkusumo didapati 9 kasus abses septum selama 5 tahun (1989-1994). Di bagian THT FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan selama tahun 1999-2004 terdapat 5 kasus abses septum nasi.

d.      Patogenesis
Patogenesis abses septum biasanya tergantung dari penyebabnya. Penyebab paling sering adalah trauma yang akan menyebabkan timbulnya hematoma septum. Trauma pada septum nasi dapat menyebabkan pembuluh darah di sekitar tulang rawan pecah. Darah terkumpul di ruang antar tulang rawan dan mukoperikondrium yang melapisinya, sehingga menyebabkan tulang rawan tersebut mengalami penekanan, dan menjadi iskemik serta nekrosis, akibatnya tulang rawan mengalami destruksi. Darah yang terkumpul merupakan media pertumbuhan bakteri dan selanjutnya terbentuk abses. Bila terdapat daerah yang fraktur atau nekrosis pada tulang rawan, maka darah akan merembes ke sisi yang lain dan menyebabkan hematoma bilateral. Hematoma yang besar akan menyebabkan obstruksi pada kedua sisi rongga hidung. Kemudian hematoma ini terinfeksi kuman dan menjadi abses septum.
Abses septum nasi dapat mengakibatkan nekrosis tulang rawan septum oleh karena menghalangi suplai darah ke tulang rawan septum nasi. Nekrosis tersebut akan menyebabkan terjadinya perforasi, sehingga proses supurasi yang semula unilateral menjadi bilateral. Destruktif tulang membentuk cavitas yang akan diisi oleh jaringan ikat. Hilangnya sebagian besar jaringan penyokong bagian bawah hidung dan adanya retraksi jaringan parut, akan menyebabkan terjadinya deformitas hidung berupa hidung pelana dan retraksi columela.
Selain dari trauma ada beberapa mekanisme yang dapat menyebabkan timbulnya abses septum, yaitu penyebaran langsung dari jaringan lunak yang berasal dari infeksi sinus. Di samping itu penyebaran infeksi dapat juga dari gigi dan daerah orbita atau sinus kavernosus. Pada beberapa kondisi, abses septum bisa diakibatkan oleh trauma pada saat operasi hidung.

e.       Gejala klinik
Gejala abses septum nasi adalah hidung tersumbat progresif disertai dengan rasa nyeri hebat, terutama terasa di puncak hidung. Juga tedapat keluhan demam dan sakit kepala.
Obstruksi umumnya satu sisi setelah beberapa hari karena nekrose kartigalo pus mengalir ke sisi lain menyebabkan obstruksi nasi bilateral dan total. Dengan adanya proses supurasi tersebut akan terjadi penumpukan pus yang semakin lama semakin bertambah banyak sehingga mengakibatkan terjadinya pembengkakan septum yang bertambah besar. Biasanya pasien mengeluh hidungnya bertambah besar.

f.       Pemeriksaan
1.      Inspeksi
Tampak hidung bagian luar (apex nasi) yang hiperemi, oedem, dan kulit mengkilat.
2.      Palpasi
Didapatkan nyeri pada sentuhan
3.      Rhinoskopi anterior
Pembengkakan pada septum nasi berwarna merah keabu-abuan berbentuk bulat pada satu atau kedua rongga hidung, terutama mengenai bagian paling depan tulang rawan septum. Ppada perabaan terdapat nyeri tekan, terasa lunak, dan pada pemberian kapas yang dibasahi dengan solutio tetrakain efedrin 1%, pembengkakan tersebut tidak mengempis.

4.      Pungsi dan aspirasi
Tindakan ini berguna untuk membantu menegakkan diagnosis, pemeriksaan kultur, selain itu juga dapat mengurangi tekanan dalam abses dan mencegah terjadinya infeksi intrakranial.

g.      Pemeriksaan penunjang

Abses septum nasi memiliki penampakan yang khas pada pemeriksaan CT-Scan sebagai akumulasi cairan dengan peninggian pinggiran yang tipis yang melibatkan septum nasi. Hasil pemeriksaan CT-scan pada abses septum nasi adalah kumpulan cairan yang berdinding tipis dengan perubahan peradangan di daerah sekitarnya, sama dengan yang terlihat pada abses di bagian tubuh yang lain.

h.      Penegakan diagnosis
Diagnosis abses septum ditegakkan apabila terdapat riwayat trauma, riwayat operasi atau infeksi intranasal. Kebanyakan abses septum disebabkan oleh trauma yang kadang-kadang tidak disadari oleh penderita.2,6 Diagnosa abses septum dapat ditegakkan berdasarkan gejala dan tanda klinis berupa obstruksi nasi bilateral yang parah dengan rasa nyeri di hidung. Pada pasien juga dapat ditemukan adanya demam dan menggigil serta nyeri kepala di bagian frontal. Diagnosis pasti adalah dijumpai adanya nanah pada aspirasi abses.

i.        Diagnosis banding
Hematoma septum, Septum deviasi, Furunkulosis dan Vestibulitis

j.        Penatalaksanaan
1.      Insisi
Insisi dapat dilakukan dengan anestasi lokal atau anestasi umum. Incisi di buat vertikal pada daerah yang paling berfluktuasi. Incisi abses dapat unilateral atau bilateral, kemudian dilakukan evakuasi pus, bekuan darah, jaringan nekrotik dan jaringan granulasi sampai bersih, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan drain. Drain dipertahankan sampai 2-3 hari, jika drain masih diperlukan dapat dipertahankan.

2.      Dipasang Tampon
Pada kedua rongga hidung dipasang tampon anterior setelah dilakukan incisi dan pemasangan drain, tampon anterior tiap hari diganti, dan dipertahankan selama 2 sampai 3 hari. Bila pus masih ada luka dibuka lagi.

3.      Pemberian Antibiotik
Antibiotik spektrum luas untuk gram positif dan gram negatif, serta kuman anaerob dapat diberikan secara parenteral. Sebelum diperoleh hasil kultur dan tes resistensi dianjurkan untuk pemberian preparat penicillin IV dan kloramfenikol IV, serta terapi terhadap kuman anaerob. Pada kasus tanpa komplikasi, terapi antibiotik parenteral diberikan selama 3 sampai 5 hari dan dilanjutkan dengan pemberian oral selama 7-10 hari kemudian.

k.      Komplikasi
1.       Nekrosis Kartilago
Abses septum nasi dapat menyebabkan komplikasi estetis berupa deformitas hidung (lorgnet nose) yang disebabkan oleh karena nekrose kartilago sehingga terjadi kerusakan sebagian besar jaringan penyokong bagian bawah hidung.
2.       Perforasi septum nasi
Perforasi septum nasi yang disebabkan oleh karena abses dapat menyebabkan terjadinya kavitas yang kemudian diisi jaringan ikat sehingga menyebabkan terjadinya retraksi, jaringan parut, yang kemudian menyebabkan terjadinya retraksi columela.
3.      Infeksi Intrakranial
Komplikasi Intrakranial dapat berlangsung melalui berbagai jalan yakni melalui saluran limfatik memasuki sirkulasi sistemik dan kemudian masuk ke meningen ataupun melalui seluruh perineural pada lamina cribosa dan area olfaktori sehingga menyebabkan komplikasi meningitis. Selain itu dapat timbul pula trombosis sinus kavernosus dan sepsis.

DAFTAR PUSTAKA

1.      Soepardi EA. Iskandar HN. Editor. Buku ajar ilmu kesehatan telinga-hidung-tenggorok. Edisi 5. Penerbit Fakultas Kedokteran Indonesia. 2005. 100-101
2.      Adams GL. Boies LR, Jr. Highler PA. Boies Buku Ajar THT. Edisi 6. Effendi H. Santoso RAK. Editor. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1993. 174-175.
3.      Becker W. Clinical Aspects of Diseases of The Nose. In: Ear, Nose and Throat Diseases, A Pocket Reference. 2nd Ed. New York: Thieme Medical Pub Inc., 1994
4.      Collman BH. Diseases of the Nasal Septum. In: Hall and Colman’s, Diseases of The Nose, Throat and Ear, and Head and Neck. 14th Ed. Singapore: ELBS with Churchill Livingstone, 1992: 19-20.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar