Asro Medika

Selasa, 24 April 2012

BLEFARITIS



1.             PENDAHULUAN
Blefaritis adalah radang pada kelopak mata. Radang yang sering terjadi pada kelopak merupakan radang kelopak dan tepi kelopak. Radang bertukak atau tidak pada tepi kelopak bisanya melibatkan folikel dan kelenjar rambut. Blefaritis ditandai dengan pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit. Blefaritis dapat disebabkan infeksi dan alergi yang biasanya berjalan kronis atau menahun. Blefaritis alergi dapat terjadi akibat debu, asap, bahan kimia, iritatif, dan bahan kosmetik. Infeksi kelopak dapat disebabkan kuman streptococcus alfa atau beta, pneumococcus, dan pseudomonas. Di kenal bentuk blefaritis skuamosa, blefaritis ulseratif, dan blefaritis angularis. Gejala umum pada blefaritis adalah kelopak mata merah, bengkak, sakit, eksudat lengket dan epiforia. Blefaritis sering disertai dengan konjungtivitis dan keratitis. Biasanya blefaritis sebelum diobati dibersihkan dengan garam fisiologik hangat, dan kemudian diberikan antibiotik yang sesuai. Penyulit blefaritis yang dapat timbul adalah konjungtivitis, keratitis, hordeolum, kalazoin, dan madarosis.

2.             PATOFISIOLOGI
Patofisiologi blefaritis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata. Hal ini mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan ,kerusakan sistem imun atau kerusakan yang disebabkan oleh produksi toksin bakteri , sisa buangan dan enzim. Kolonisasi dari tepi kelopak mata dapat ditingkatkan dengan adanya dermatitis seboroik dan kelainan fungsi kelenjar meibom.

3.             ANATOMI
Kelopak atau palpebra mempunyai fungsi melindungi bola mata, serta mengeluarkan sekresi kelenjarnya yang membentuk film air mata di depan kornea. Palpebra merupakan alat penutup mata yang berguna untukmelindungi bola mata terhapat trauma, trauma sinar dan pengeringan mata. Kelopak mempunyai lapisan kulit yang tipis pada bagian depan sedang di bagian belakang ditutupi selaput lendir tarsus yang disebut konjungtiva tarsal. Pada kelopak terdapat bagian-bagian :
·      Kelenjar seperti kelenjar sebasea, kelenjar moll atau kelenjar keringat, kelenjar zeis pada pangkal rambut, dan kelenjar meibom pada tarsus.
·      Otot seperti : M. Orbikularis okuli yang berjalan melingkar di dalam kelopak atas dan bawah, dan terletak di bawah kulit kelopak. M. Orbikularis berfungsi menutup bola mata yang dipersarafi N. fasial. M. Levator palpebra berfungsi untuk mengangkat kelopak mata atau membuka mata.
·      Di dalam kelopak terdapak tarsus yang merupakan jaringan ikat dengan kelenjar di dalamnya atau kelenjar Meibom yang bermuara pada margo palpebra.
·      Septum orbita yang merupakan jaringan fibrosa berasal dari rima orbita merupakan pembatas isi orbita dengan kelopak depan.


4.             ETIOLOGI
Terdapat 2 jenis blefaritis, yaitu :
1.        Blefaritis anterior : mengenai kelopak mata bagian luar depan (tempat melekatnya bulu mata). Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus dan seborrheik. Blefaritis stafilokok dapat disebabkan infeksi dengan Staphylococcus aureus, yang sering ulseratif, atau Staphylococcus epidermidis atau stafilokok koagulase-negatif. Blefaritis seboroik(non-ulseratif) umumnya bersamaan dengan adanya Pityrosporum ovale.
2.        Blefaritis posterior : mengenai kelopak mata bagian dalam (bagian kelopak mata yang lembab, yang bersentuhan dengan mata). Penyebabnya adalah kelainan pada kelenjar minyak. Dua penyakit kulit yang bisa menyebabkan blefaritis posterior adalah rosasea dan ketombe pada kulit kepala (dermatitis seboreik).

4.1         Blefaritis Anterior
Blefaritis anterior merupakan radang bilateral kronik yang umum di tepi palpebra. Ada dua jenis utamanya: stafilokokok dan seborreik. Blefaritis stafilokok dapat disebabkan oleh infeksi Staphylococcus aureus, yang sering ulseratif, atau Staphylococcus epidermidis (stafilokok koagulase-negatif). Blefaritis seborreik (non-ulseratif) umumnya berkaitan dengan keberadaan Pytirosporum ovale meskipun organisme ini belum terbukti menjadi penyebabnya. Seringkali kledua jenis blefaritis timbul scara bersamaan (infeksi campur). Seborrea kulit kepala, alis, dan telinga sering menyertai blefaritis seborreik.
Gejala utamanya adalah iritasi, rasa terbakar, dan gatal pada tepi palpebra. Mata yang terkena “bertepi merah”. Banyak sisik atau “granulasi” terlihat menggantung di bulu mata palpebra superior maupun inferior. Pada tipe stafilokok, sisinya kering, palpebra merah, terdapat ulkus-ulkus kecil di tepi palpebra, dan bulu mata cenderung rontok. Pada tipe seborreik, sisik berminyak, tidak terjadi ulserasi, dan tepian palpebra tidak begitu merah. Pada tipe campuran yang lebih umum, kedua sisik ada, tepian palpebra merah dan mungkin berulkus. S. Aureus dan P. Ovale mungkin muncul bersamaan atau sendiri-sendiri pada pulasan materi kerokan dari tepi palpebra.


Blefaritis Stafilokok dapat disertai komplikasi hordeolum, kalazion, keratitis epitelsepertiga bawah kornea, dan infiltrat kornea marginal. Kedua bentuk blefaritis anterior merupakan predisposisi terjadinya konjungtivitis berulang.
Kulit kepala, alis mata, dan tepi palpebra harus selalu dibersihkan, terutama pada blefaritis tipe seborreik, dengan memakai sabun dan shampo. Sisik-sisik harus dibersihkan dari tepi palpebra dengan kain basah dan shampo setiap hari.
Blefaritis stafilokok diobati dengan antibiotik antistafilokok atau pemberian salep mata sulfonamide dengan aplikator kapas sekali sehari pada tepian palpebra.
Tipe seborreik dan stafilokok umumnya bercampur dan menjadi kronik selang beberapa bulan atau tahun jika tidak diobati dengan memadai; konjungtivitis atau keratitis stafilokok penyerta umumnya cepat teratasi setelah pengobatan antistafilokok lokal.

4.2         Blefaritis Posterior
Blefaritis posterior adalah peradangan palpebra akibat disfungsi kelenjar meibom. Seperti blefaritis anterior, kelainan ini terjadi secara kronik dan bilateral. Blefaritis anterior dan posterior dapat timbul secara bersamaan. Dermatitis seborreik umumnya disertai dengan disfungsi kelenjar meibom. Kolonisasi atau infeksi strain stafilokok dalam jumlah memadai sering disertai dengan penyakit kelenjar meibom dan dapat menjadi salah satu penyebab gangguan fungsi kelenjar meibom. Lipase bakteri dapat menimulkan peradangan pada kelenjar meibom dan konjungtiva serta menyebabkan terganggunya film air mata.

Blefaritis posterior bermanifestasi dalam bermacam gejala yang mengenai palpebra, air mata, konjungtiva, dan kornea. Perubahan pada kelenjar meibom mencakup peradangan muara meibom (meibominanitis), sumbatan muara kelenjar oleh sekret yang kental, pelebaran kelenjar meibom dalam kelenjar tarsus, dan keluarnya sekret kuning kental seperti keju bila kelenjar itu dipencet. Dapat juga timbul hordeolum dan kalazion. Tepi palpebra tampak hiperemis dan telangiektasia. Palpebra juga membulat dan menggulung ke dalam sebagai akibat parut pada konjungtiva tarsal; membentuk hubungan yang abnormal antara film airmata prakornea dan muara-muara kelenjar meibom. Air mata mungkin berbusa atau sangat berlemak. Hipersensitivitas terhadap stafilokok mungkin menyebabkan keratitis epitelial. Kornea juga bisa membentuk vaskularisasi perifer dan menjadi tipis, terutama di bagian inferior, terkadang dengan infiltrat marginal yang jelas. Perubahan-perubahan makroskopik pada blefaritis posterior identik dengan kelainan-kelainan mata yag ditemukan pada acne rosacea.
Terapi blefaritis posterior tergantung pada perubahan-perubahan di konjungtiva dan kornea terkait. Peradangan yang jelas pada struktur-struktur ini mengharuskan pengobatan aktif, termasuk terapi antibiotiksistemik dosis rendah jangka panjang, biasanya doxycycline (100 mg dua kali sehari) atau erythromycin (250 mg tiga kali sehari), tetapi juga berpedoman pada hasil biakan bakteri dari tepi palpebra dan steroid topikal dengan antibiotik atau substitusi air mata umumnya tidak perlu dan dapat berakibat bertambah rusaknnya film air mata atau reaksi toksik terhadap bahan pengawetnya.
Pengeluaran isi kelenjar meibom secara periodik bisa membantu, khususnya pada pasien dengan penyakit ringan yang tidak memerlukan terapi antibiotik oral atau steroid topikal jangka panjang. Hordeolum dan kalazion yang dapat menjadi komplikasi hendaknya diterapi dengan baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar