Asro Medika

Selasa, 24 April 2012

NEUROPATI OPTIK



Neuropati optik merupakan gangguan fungsional atau perubahan patologis pada nervus optikus, kadang terbatas hanya pada lesi non-inflamatorik, berlawanan dengan neuritis. Klasifikasi neuropati optic berdasarkan manifestasi klinik terdiri atas pola lapangan pandang, neuropati optic anterior, Neuropati optic posterior, dan Atropi optic.

1.     Pola Lapangan Pandang
Serabut saraf retina yang menuju nervus optikus dibagi atas 3 kelompok besar à lesi pada 3 kelompok besar tersebut:
a.       papillomacular fibers: cecocentral scotoma, paracentral scotoma, dan central scotoma.
b.       arcuate fibers: arcuate scotoma (defek nerve fiber bundle), broad (altitudinal) defect (broader region of arcuate fibers)
c.       nasal radiating fibers:defek pada temporal.

2.     Neuropati optic anterior
Neuropati optic iskemik anterior (NOIA) merupakan peyakit yang berupa infark pada diskus optikus dan tidak berhubungan dengan inflamasi, demielinasi, infiltrasi neural, ataupun metastasis. NOIA sering dijumpai dan menyebabkan hilangnya visus mendadak, dan sering terjadi pada usia lanjut. NOIA dapat dibagi menjadi 2 yaitu arteritik (lebih jarag, 5-10% kasus NOIA) dan nonarteritik, yang dibedakan dalam tabel berikut.

v  Patofisiologi
NOIA merupakan proses iskemik pada serabut saraf optic. Pembuluh darah utama yang menyuplai papil optic berasal dari arteri siliaris posterior, sehingga NOIA merupakan manifestasi dari kelainan iskemik dari sirkulasi arteri siliaris posterior pada optic nerve head. Pola aliran dan suplai darah pada optic nerve head bervariasi tiap individu sehingga berpengaruh pada anifestasi klinik.
a.       Trombosis (lebih sering) dan emboli (jarang) a. siliaris posterior
b.      Sirkulasi buruk atau tidak ada pada optic nerve head. Faktor risiko dibagi menjadi 3 kategori mayor penyakit menurut Ichemic Optic Neuropathy Decompresion Trial (IONDT), yaitu : (1) Penyakit sistemik: Hipertensi, DM; (2) Penyakit yang berhubungan tetapi tidak langsung sebagai penyebab:  oklusi pembuluh darah kecil cerebrovaskular; (3) Kelainan yang tidak mempunyai hubungan patogenik pada sebagian kecil pasien.
v  Penatalaksanaan
a.       NOIA Arteritik: steroid sistemik prednisone 40-60 mg/hari. Bila dimulai dengan dosis 60 mg/hari selama 2-4 minggu, tapering 10 mg tiap 2 minggu sampai 40 mg, kemudian dikurangi 5 mg tiap 1-2 minggu. Jika sudah 10 mg/hari dikurangi 1 mg tiap bulan.
b.      NOIA Nonarteritik: tidak terbukti steroid sistemik. Hiperbarik oksigen pada 2 atm 2x1 hari selama 10 hari. Pemberian steroid sistemik masih dianjurkan, metilprednisolon 1g/hari IV, tapering lambat. Setelah 1 bulan pasien mengalami perbaikan visus 6/9.


3.     Neuropati optic iskemik posterior
Merupakan kerusakan iskemia akut pada nervus optikus retrobulbar, RAPD (relative afferent puilaary defect), diskus optikus normal. NOIP jarang dan didiagnosis eksklusi (sebaiknya tidak diajukan sebelum penyebab-penyebab lain, terutama lesi komprehensif telah dieksklusi).
v  Patofisiologi
NOIP terjadi pada 3 kejadian berbeda, yaitu: (1) perioperatif (kepala, spine, leher), (2) arteritik/vaskulitis, (3) Nonarteritik (klinik yang mirip pada NOIA Nonarteritik). Pada perioperatif kehilangan visus lebih sering bilateral daripada unilateral.
v  Penatalaksanaan
Kortikosteroid.
v  Prognosis: Buruk

4.     Atropi optic
Kombinasi dari hilangnya visus, RAPD, dan atrofi optic adalah nonspesifik dan dapat ditemukan pada fase kronik dari tiap neuropati optic yang diientifikasi aawal. Tingkatan fungsi nervus optikus adaah berdasarkan visual acuity, color vision testing, dan quantitative perimetry. Derajat dan pola atropi dapat dilihat melalui foto fundus. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar