Asro Medika

Sabtu, 25 Juni 2011

MOLA HIDATIDOSA



DEFINISI
Mola Hidatidosa adalah kehamilan abnormal dimana seluruh villi korialisnya mengalami perubahan hidrofobik.

EPIDEMIOLOGI
  • Prevalensi mola hidatidosa lebih tinggi di Asia, Afrika, Amerika latin dibandingkan dengan negara – negara barat.
  • Biasanya dijumpai lebih sering pada umur reproduksi (15-45 tahun) dan pada multipara.

ETIOLOGI
Penyebab mola hidatidosa tidak diketahui, faktor – faktor yang dapat menyebabkan antara lain :
1. Faktor ovum : ovum memang sudah patologik sehingga mati, tetapi terlambat dikeluarkan.
2. Imunoselektif dari Tropoblast
3. keadaan sosioekonomi yang rendah
4. paritas tinggi
5. kekurangan protein
6. infeksi virus dan factor kromosom yang belum jelas.

PATOGENESIS
Mola hidatidosa terbagi menjadi :
1. Mola Hidatidosa Sempurna
Villi korionik berubah menjadi suatu massa vesikel – vesikel jernih. Ukuran vesikel bervariasi dari yang sulit dilihat, berdiameter sampai beberapa sentimeter dan sering berkelompok – kelompok menggantung pada tangkai kecil. Temuan Histologik ditandai oleh:
- Degenerasi hidrofobik dan pembengkakan Stroma Vilus
- Tidak adanya pembuluh darah di vilus yang membengkak
- Proliferasi epitel tropoblas dengan derajat bervariasi
- Tidak adanya janin dan amnion.
2. Mola Hidatidosa Parsial
Apabila perubahan hidatidosa bersifat fokal dan kurang berkembang, dan mungkin tampak sebagai jaringan janin. Terjadi perkembangan hidatidosa yang berlangsung lambat pada sebagian villi yang biasanya avaskular, sementara villi – villi berpembuluh lainnya dengan sirkulasi janin plasenta yang masih berfungsi tidak terkena.

GEJALA KLINIS
a. Amenorrhoe dan tanda – tanda kehamilan
b. Perdarahan pervaginam dari bercak sampai perdarahan berat. Merupakan gejala utama dari mola hidatidosa, sifat perdarahan bisa intermiten selama berapa minggu sampai beberapa bulan sehingga dapat menyebabkan anemia defisiensi besi.
c. Uterus sering membesar lebih cepat dari biasanya tidak sesuai dengan usia kehamilan.
d. Tidak dirasakan tanda – tanda adanya gerakan janin maupun ballotement
e. Hiperemesis,
Pasien dapat mengalami mual dan muntah cuku berat.
f. Preklampsi dan eklampsi sebelum minggu ke – 24
g. Keluar jaringan mola seperti buah anggur, yang merupakan diagnosa pasti
h. Tirotoksikosis
Mola lengkap (complete mole)
Seiring berkembangnya perkembangan teknologi high-resolution ultrasonography, maka presentasi klinis kehamilan dengan mola lengkap telah berubah. Sekarang sebagian besar mola didiagnosis pada semester pertama sebelum timbul tanda dan gejala klasik.
1.      Perdarahan vagina (vaginal bleeding)
Merupakan gejala yang paling sering ditemukan pada mola lengkap. Jaringan mola (molar tissue) berpisah dari decidua, menyebabkan perdarahan. Uterus menggelembung
karena banyaknya darah yang keluar, dan cairan gelap dapat merembes (atau bocor) ke vagina. Gejala ini dapat terjadi pada 97% kasus.
2.      Hyperemesis (muntah berlebihan) 
Pasien juga melaporkan mual (nausea) dan muntah (vomiting) yang berat. Ini dikarenakan meningkatnya kadar human chorionic gonadotropin (HCG).
3.      Hyperthyroidism
Sekitar 7% pasien dapat datang dengan takikardi (denyut jantung > 100x/menit), tremor, dan kulit yang hangat.
Mola parsial (Partial mole)
Manifestasi klinis penderita mola parsial tidak sama dengan penderita mola lengkap.
Gejala dan tanda mola parsial sama dengan aborsi inkomplet danmissed abortion.
1. Perdarahan vagina (Vaginal bleeding)
2. Tidak adanya denyut jantung janin (Absence of fetal heart tones)
DIAGNOSA BANDING
- Kehamilan ganda
- Abortus iminens
- Hidroamnion
- Kario Karsinoma

DIAGNOSIS
1. Klinis
a. Berdasarkan anamnesis
b. Pemeriksaan fisik
  • Inspeksi : muka dan kadang-kadang badan kelihatan kekuningan yang disebut muka mola (mola face)
  • Palpasi :
- Uterus membesar tidak sesuai dengan tuanya kehamilan, teraba lembek
- Tidak teraba bagian-bagian janin dan ballotement dan gerakan janin.
  • Auskultasi : tidak terdengar bunyi denyut jantung janin
  • Pemeriksaan dalam :
- Memastikan besarnya uterus
- Uterus terasa lembek
- Terdapat perdarahan dalam kanalis servikalis
2. Laboratorium
  • Pengukuran kadar Hormon Karionik Ganadotropin (HCG) yang tinggi maka uji biologik dan imunologik (Galli Mainini dan Plano test) akan positif setelah titrasi (pengeceran) :
           - Galli Mainini 1/300 (+) maka suspek molahidatidosa
  • Hitung darah lengkap dengan trombosit (complete blood cell count with platelets)
    Anemia merupakan komplikasi medis yang umum terjadi, sebagai perkembangan (development) dari proses koagulopati.
  • Fungsi pembekuan (clotting function) Tes ini dilakukan untuk menyingkirkan dugaan adanya komplikasi akibat proses perkembangan koagulopati.
  • Tes fungsi hati (Liver function test)
  • Blood urea nitrogen (BUN) dan kreatinin 
  •  Thyroxin
Meskipun wanita dengan kehamilan mola secara klinis biasanya euthyroid, namun
kadar plasma thyroxin biasanya naik di atas nilai normal wanita dengan
kehamilan normal. Di samping itu, gejala hyperthyroidism dapat terjadi.
  • Serum inhibin A dan activin A
Serum inhibin A dan activin A menjadi 7-10 kali lipat lebih tinggi pada
kehamilan mola dibandingkan dengan kehamilan normal pada usia kehamilan
(gestational) yang sama.

3. Radiologik
- Plain foto abdomen-pelvis : tidak ditemukan tulang janin
- USG : ditemukan gambaran snow strom atau gambaran seperti badai salju.

4. Uji Sonde (cara Acosta-sison)
Tidak rutin dikerjakan. Biasanya dilakukan sebagai tindakan awal curretage.

5. Histopatologik
Dari gelembung-gelembung yang keluar, dikirim ke Lab. Patologi Anatomi
Mola lengkap (complete mole)
Tidak tampak jaringan janin (fetal tissue), namun terlihat jelas proliferasi trofoblas yang berat (severe trophoblastic proliferation), hydropic villi, dan kromosom 46,XX atau 46,XY.  Sebagai tambahan, mola lengkap menunjukkan overexpression dari beberapa faktor pertumbuhan (growth factors), termasuk c-myc, faktor pertumbuhan epidermal, dan c-erb B-2. Hal itu tidak dijumpai pada plasenta normal.
Mola parsial (partial mole)
Terlihat jaringan janin (fetal tissue), amnion, sel-sel darah merah janin, vili hidrofik, dan proliferasi trofoblas. Menurut Prof. Dr. Djamhoer Martaadisoebrata, dr.SpOG(K), MSPH. (2005) gambaran khas mola hidatidosa parsial memiliki empat gambaran khas:
1. Vili korialis dari berbagai ukuran dengan degenerasi hidropik, kavitasi, dan hiperplasi trofoblas.
2. Scalloping yang berlebihan dari vili.
3. Inklusi stroma trofoblas yang menonjol.
4. Ditemukan jaringan embrionik atau janin.
PENATALAKSANAAN
  1. Evakuasi
a)      Perbaiki keadaan umum. (vital sign)
b)      Kuretase
-kuretase isap disertai pemberian infuse oksitosin i.v.
-kuretase tumpul untuk mengeluarkan sisa konsepsi
-kuretase tajam (7-10 hari kemudia) untuk memastikan uterus benar-benar kosong & memeriksa tingkat proliferasi sisa trofoblas yang dapat ditemukan (waspada keganasan)
c)      Memberikan obat-obatan Antibiotik, uterotonika dan perbaiki keadaan umum penderita.
d)     Histeriktomi total dilakukan pada mola resiko tinggi usia 35 tahun, anak hidup tiga, dan uterus yang sangat besar yaitu setinggi pusat atau lebih.
      2. Pengawasan Lanjutan
          - periksa jadar bhcg secara berulang setiap minggu sampai hasil (-) selama 3 minggu
           -Ibu dianjurkan untuk tidak hamil dan dianjurkan memakai kontrasepsi oral pil,diafragma,kondom supaya BHcg kehamilan tidak mengacaukan bhcg keganasan
         - kemoterapi bila bhcg tidak turunà methotrexate atau dactinomycin diberikan sampai bhcg (-) selama 6 bulan

 KOMPLIKASI
- Perdarahan yang hebat sampai syok
- Perdarahan berulang-ulang yang dapat menyebabkan anemia
- Infeksi sekunder
- Perforasi karena tindakan atau keganasan

PROGNOSA
- Mortalitas.
- Mola destruens.
- Koriokarsinoma

KDUà 2

Tidak ada komentar:

Posting Komentar