Asro Medika

Rabu, 16 November 2011

20.2 Disfungsi seksual


     …..suatu gangguan yang berhubungan dengan suatu fase tertentu dari respon siklus respon seksual.

Tabel 20.2-1
Fase siklus respons seksual menurut DSM-IV dan disfungsi seksual yang menyertai
Fase                            Kareteristik                                                   
Hasrat/dorongan         Fase ini berbeda dari yang dikenali semata-mata melalui fisiologi dan mencerminkan motivasi pasien, dorongan, dan kepribadian. Fase ini ditandai oleh khayalan seksual dan hasrat untuk melakukan hubungan seks
Rangsangan                 Fase ini terdiri dari perasaan subjektif tentang kenikmatan seksual dan perubahan fisiologis yang ditemukan dalam fase rangsangan dan plateau dari masters dan johnson adalah disatukan dan terjadi selama fase ini
Orgasme                      Fase ini terdiri dari puncak kenikmatan seksual, dengan pelepasan ketegangan seksual dan kontraksi ritmik otot perineum dan organ reproduktif pelvik
Resolusi                       Fase ni merupakan perasaan relaksasi umum, sehat, dan kekenduran otot. Selama fase ini laki-laki adalah refrakter terhadap orgasme selama periode waktu yang semakin panjang dengan bertambahnya usia, sedangkan peremuan mengalami orgasme multiple tanpa periode refrakter

Fase                            Disfungsi
Hasrat/dorongan         Gangguan dorongan seksual hipoaktif, gangguan keengganan seksual, gangguan dorongan seksual hipoaktif karena kondisi medis umum (laki-laki atau perempuan), disfungsi seksual akibat zat dengan gangguan dorongan.
Rangsangan                 Gangguan rangsangan seksual wanita, gangguan erektil laki-laki (juga terjadi dalam stadium 3 dan dalam stadium 4); gangguan erektil laki-laki karena kondisi medis umum, dispareunia karena kondisi medis umum (laki-laki atau perempuan), disfungsi seksual akibat zat dengan gangguan rangsangan
Orgasme                      Gangguan orgasmik perempuan, gangguan orgasmik laki-laki, ejakulasi prematur, disfungsi seksual lain karena kondisi medis umum (laki-laki atau perempuan), disfungsi seksual akibat zat dengan gangguan orgasme.
Resolusi                       Disforia pascasenggama, nyeri kepala pasca senggama

DSM-IV




Gangguan hasrat seksual
Dibagi menjadi 2 kelas :

  1. Gangguan hasrat seksual hipoaktif (hypoaktif sexual desire disrorder),
Ditandai oleh defisiensi atau tidak adanya fanasi seksual dan hasrat seksual untuk aktivitas seksual

Tabel 20.2-3
Kriteria diagnostik untk gangguan dorongan seksual hipoaktif
  1. Kekurangan (atau tidak adannya) khayalan seksual dan keinginan untuk aktivitas seksual yang persisten ata rekuren. Pertimbangan kekurangan atau tidak adanya hal tersebut dilakukan oleh klinisi, dengan mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi seksual, seperti usia dan konteks kehidupan pasien.
  2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal
  3. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan Aksis I lainnya (kecuali disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis-medis umum.
Tabel dari DSM-IV


Epidemiologi
*      Diperkirakan 20% populasi total menderita gangguan hasrat seksual hipoaktif.
*      Keluhan lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan laki-laki.

Etiologi penurunan hasrat seksual
o   Percekcokan perkawinan
o   Stress kronis, kecemasan, depresi
o   Adanya gairah tergantung beberapa faktor : dorongan biologis, harga diri yang adekuat, pengalaman sebelumnya yang baik dengan seks, tersedianya hubungan yang layak, dan hubungan yang baik dalam bidang non-seksual dengan pasangannya

  1. Gangguan keengganan seksual (sexual aversion disorder)
Ditandai oleh suatu keegganan terhadap atau menghindari kontak seksual genital dengan pasangan seksual

Tabel 20.2-4
Kriteria diagnostik untuk gangguan keenganan seksual
  1. Keenganan ekstrem yang persisten atau rekuren, dan menghindar, semua (atau hampir semua) kontak seksual dengan pasangan seksual
  2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan iterpersonal
  3. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya ( kecuali disfungsi seksual lainnya)
DSM-IV

Gangguan rangsangan seksual

Gangguan rangsangan seksual wanita
            Ditandai oleh kegagalan parsial atau komplit yang persisten atau rekuren untuk mencapai atau mempertahankan respon lubrikasi-pembengkakan dari perangsangan seksual sampai selesainya tindakan seksual

Epidemiologi
Lebih rendah (underestimate)
Seringkali memiliki masalah orgasme juga
33%wanita yang telah menikah, menjelaskan adanya kesulitan dalam mempertahankan perangsangan seksual

Faktor  resiko
Faktor psikologis (kecemasn, rasa bersalah, dan ketakutan)
Perubahan kadar testosteron, estrogen, prolaktin, dan tiroksin
Medikasi dengan obat antihistmin atau antikolinergik menyebabkan penurunan lubrikasi vagina

Tabel 20.2-5
Kriteria Diagnostik untuk gangguan ragsangan seksual wanita
a)      Ketidakmampuan rekuren atau menetap untuk mencapai, atau memperthankan respon lubrikasi-pembengkakan yang adekuat dari rangsangan seksual, sampai selesainya aktivitas seksual
b)      Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpesonal
c)      Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya(kecuai disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum
DSM-IV

Gangguan erktil laki-laki
            Ditandai  oleh kegagalan parsial atau komplit yang rekuren dan persisten untuk mencapai atau mempertahankan ereksi sampai selesainya tindakan seksual.

Disebut juga fungsi erektil dan impotensi.
  • Gangguan erektil seumur hidup
  • Gangguan erektil didapat
  • Gangguan erektil situasional

Epidemiolgi
    • Terjadi 10 samapi 20% semua laki-laki
    • 50% impotensi sebagai keluhan utama
    • gangguan erektil seumr hidup adalah jarang, 1% laku-laki dibawah usia 35 tahun
    • 75%impoten pada usia 80 tahun

Faktor resiko
v  Insidensi impoensi meningkat seiring bertambahnya usia
v  Ketidakmampuan untuk mempercayai pasangan
v  Ketidakmampuan untuk merukunkan kasih sayang terhadap pasangan
v  Ketakutan, kecemasan, hambaan moral


Penyebab gangguan erektil laki-laki mungkin organik atau psikologis atau kombinasi keduaya, tetapi sebagian besar adalah psikologis.

Tabel 20.2-6
Kriteria diagnostik untuk gangguan erektil laki-laki
  • Ketidakmampuan rekuren atau menetap untuk mencapai, atau untuk mempertahankan ereksi yang adekuat, sampai selesainya aktivitas seksual
  • Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan intrpersonal
  • Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya (kecuali disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum)
DSM-IV

Diagnosis harus memperhitungkan fokus, intensitas dan durasi aktivitas seksual yang dilakukan pasien.

Gangguan orgasme

Gangguan orgasmik wanita
            Didefinisikan sebagai inhibisi orgasme wanita yag rekuren atau persisten, dan dimanifestasikan oleh keterlambatan orgasme yang rekuren atau tidak adanya orgasme setelah fase perangsangan seksual yang normal yang dianggap klinisi adekuat dalam fokus, intensitas, dan durasinya.

Ø  Gangguan orgasmik wanita seumur hidup, lebih serig ditemukan pada wanita yag tidak menikah
Ø  Gangguan orgasmik wanita didapat

Epidemiologi
v  Menurut Kinsey ada 5% wanita yang berusia lebih dari 35 tahun yang tidak encapai orgasme dengan cara apapun.
v  Orgasme terjadi pada remaja terjadi pada 50% wanita
v  46% wanita mengeluh kesulitan dalam mencapai orgasme
v  prevalensi keseluruhan gangguan orgasmik wanita dari semua penyebab diperkirakan adalah 30%
Sejumlah faktor psikologis yang berhubungan
v  Ketakutan menjadi hamil
v  Penolakan oleh pasangan seksual
v  Kerusakan pada vagina
v  Permusuhan terhadap laki-laki
v  Perasaan bersalah terhadap impuls seksual
Tabel 20.2-7
Kriteria diagnostik untuk gangguan orgasmik wanita
  1. Keterlambatan, atau tidak adanya, orgasme yang menetap atau rekuren setelah fase ragsangan seksual yang normal. Wanita menunjukkan berbagai variasi dalam jenis atau intensitas stimulasi yang memicu orgasme. Diagnosis ganggua orgasmik wanita harus didasarkan pada pertimbangan klinisi bahwa kapasitas orgasmik wanita adalah kurang dari apa yang diperkirakan menurut usia, pengalaman seksual, dan keadekuatan stimulasi yang diterimanya.
  2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jela atau kesulitan iterpersonal
  3. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya (kecuali disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum
DSM-IV

Gangguan orgasmik laki-laki
Laki-laki mencapai ejakulasi selama koitus dengan sangat sukar, jika tidak sama sekali.
  • Gangguan orgasmik seumur hidup
  • Gangguan orgasmik didapat
Harus dibedakan antara orgasme dengan ejakulasi, karena beberapa laki-laki mengalami ejakuasi tetapi mengeluh adanya penurunn atau tidak adanya rasa kenikmatan sbjektif selama pengalaan orgasmik.

Epidemiologi
Insidensi gangguan orgasmik laki-laki hanya 3,8% dalam satu elompok 447 kasus disfungsi seksual
Prevalensi umum yang telah dilaporkan adalah 5%

Faktor resiko
Psikopatologi yang parah, ia memandang seks  sebagai dosa dan genital adalah sebagai hal yang kotor.
Kehilangan daya tarik seksual terhadap pasangan
Permusuhan terhadap pasangan
Kesulitan interpersonal
Tabel 20.2-8
Kriteria untuk gangguan orgasmik laki-laki
  1. Keterlambatan, atau tidak adannya, orgasme yag menetapatau rekuren setelah fase rangsangan seksual yang normal selama aktivitas seksual yang dianggap kinisi, dengan mempertimbangkan usia pasien, sebagai adekuat dalam fokus, intensitas, dan lamanya.
  2. Gangguan menyebabkan prnderitaan yag jelas atau kesulitan interpersonal
  3. Disfungsi seksual tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I linnya (kecuali disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung daru suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis yang umum

Ejakulasi prematur
Tabel 20.2-9
Kriteria diagnsotik untuk ejakulasi prematur
  1. Ejakulasi persisten atau rekuren pada stimulasi seksual yang minimal sebelum, pada, atau segera setelah penetrasi dan sebelum pasien menginginkannya. Klinisi harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi lama fase rangsangan, seperti usia, kebaruan pasangan atau situasi seksual, dan frekuensi aktivitas seksual terakhir
  2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal
  3. Ejakulasi preatur bukan semta-mata karena efek langsung dari suatu zat (misalnya, putus opioid)
DSM-IV

Ejakulasi prematur tidak disebabkan hanya oleh faktor organik dan bukan gejala sindroa psikiatrik klinis lainnya.

Epidemiologi
Lebih sering ditemukan sekarang ini di antara laki-laki dengan pendidikan perguruan tinggi
35 sampai 40% pasien yang diobati, mengeluh ejakulasi prematur sebagai keluhan utamanya.

Faktor resiko
Akibat pembiasaan kultural yang negatif
Kecemasan terhadap tindakan seksual atau dengan ketakutan yang tidak disadari terhadap vagina

Gangguan nyeri seksual
Dispareunia
            Nyeri genital yang rekuren atau persisten yang terjadi sebelum, selama atau setelah hubungan seks baik pada laki-laki atau wanita.

Tabel 20.2-10
Kriteria Diagnostik untuk dispareunia
  1. Nyeri genital yang menetap atau rekuren yang berhubungan dengan hubungan seksual baik pada laki-laki maupun wanita
  2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal
  3. Gangguan tidak semata-mata disebabkan oleh vaginismus atau tidak adanya lubrikasi, tidak lebih baik diterangkan oleh gangguan aksis I lainnya (kecuali disfungsi seksual lain), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi medis umum.
DSM-IV

Epdemiologi
a)      Sering pada wanita
b)      Sering bersama-sama dengan vaginismus
c)      Insidensi tidak diketahui
Faktor resiko
a)      Faktor dinamika pada sebagian kasus
b)      Nyeri pelvis kronis, pada wanita dengan riwayat pemerkosaan dan penyiksaan seksual pada anak-anak
c)      Koitus yang nyeri, akibat dari ketegagan dan kecemasan – kontraksi otot-otot vagina secara involunter

Rasa sakit menyebabkan hubungan seksual tidak menyenangkan dan tidak dapat dilakukan
Dispareunia tidak boleh didiagnosis jika ditemukan dasar organik untuk nyerinya atau jika, keadaan ini disebabkan semata-mata oleh vaginismus atau tidak adanya lubrikasi
Vaginismus
            Kontraksi otot pada sepertiga bagian luar vagina yang terjadi secara involunter yang menghalangi insersi penis dan hubungan seks.
Respons dapat terjadi selama pemeriksaan ginekologis saat konstriksi vagina involunter menghalangi masuknya spekulum ke dalam vagina
Tabel 20.2-11
Kriteria diagnostik untuk vaginismus
  1. Spasme involunter yang menetap atau rekuren pada otot-otot sepertiga bagian bawah vagina yang mengganggu hubungan seksual
  2. Gangguan menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal
  3. Gangguan tidak lebih baik diteragkanoleh gangguan aksis I lainnya (misalnya, gangguan somatisasi), dan semata-mata bukan efek fisiologis langsung dari kondisi medis umum.
DSM-IV

Epidemiologi
a)      Vaginismus kurang prevalen dibandingkan gangguan orgasmik wanita
b)      Lebih sering pada wanita yang berpendidikan tinggi dan wanita dalam kelompok  sosioekonomi tinggi
Faktor resiko
v  Trauma seksual, pemerkosaan
v  Wanita dengan konflik psikoseksual dapat menganggap penis sebagau senjata
v  Kebiasaan religius yang ketat, yang menghubungkan seks dengan dosa

Disfungsi seksual karena kondisi medis umum
Tabel 20.2-12
Kriteria diagnostik untuk disfungsi seksual karena kondisi medis umum
  1. Disfungsi seksual yang bermakna secara klinis yang menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal yang menonjol dalam gambaran klinis
  2. Terdapat bukti-bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa disfungsi seksual adalah dapat dijelaskan sepenuhnya oleh efek fisiologis langsung dari suatu kondisi medis umum
  3. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh gangguan mental lain (misalnya, gangguan depresif berat)
DSM-IV

Gangguan erektil laki-laki karena kondisi medis umum

Epidemiologi
20 sampai 50% laki-laki dengan gangguan erektil memiliki suatu dasar organik

Faktor resiko
Efek samping medikasi
Kastrasi (mengangkat testis) tidak selalu menyebabkan disfungsi seksual, tergantung orangnya

Sejumlah prosedur untuk membedakan  impotensi dengan penyebab organik
a)      Tumescence
b)      Plestimogrfi penis
c)      Tes toleransi glukosa
d)     Penentuan prolaktin
e)      FSH
f)       Pemeriksaan sistometrik
g)      Arteriografi penis, dll

Dispareunia karena kondisi medis umum

Epidemiologi
30-40% menderita patologi pelvis

Faktor resiko
  • 30% dari semua prosedur bedah daerah genital wanita menyebabkan dispareunia sementara
  • dispareunia karena sisa himen yang teriritasi, infeksi kelenjar bartolini, pascamenopause dll
  • nyeri pasca senggama, akibat dari endometriosis, dll
  • dispareunia dapat terjadi pada laki-laki, tapi jarang, ex; penyakit peyronie

Gangguan hasrat seksual hipoaktif karena kondisi medis umum

Faktor resiko
Mastektomi
Ileostomi
Histerektomi
Prostatektomi
Penurunan kadar testosteron pada laki-laki
Obat-obatan yag menekan sistem saraf pusat atau menurunkan rpsoduksi testosteron.


Disfungsi seksual laki-laki lain karena kondisi medis umum
            Kategori ini digunakan jika suatu ciri disfungsional lain adalah menonjol(ex; gangguan orgasmik) atau tidak adanya ciri yang menonjol.

Faktor resiko
  • prostatektomi
  • Penyakit parkinson
  • Obat antihipertensif, trisiklik

Disfungsi seksual wanita lain karena kondisi medis umum
            Kategori ini digunakan jika terdapat ciri lain (ex, gangguan orgasmik) yang menonjol atau jika ada ciri yang menonjol

Faktor resiko
  • Penyakit endokrin; DM, hipotiroidisme, dll
  • Medikasi (antihipertensi, trisiklik, fluoxetine, dll)

Disfumgsi seksual akibat zat
ü  Diagnosis ini digunakan jika terdapat bukti-bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium adanya intoksikasi atau putus zat.
ü  Terjadi dalam satu bulan intoksikasi atau putus zat yang bermakna
ü  Zat yang disebutkan adalah alkohol, amfetamin atau zat yang berhubungan; kokain, sedatif, opioid, dll
Alkohol dapat meningkatkan awal aktivitas seksual dengan menghilangan inhibisi, akan tetapi alkohol mengganggu kinerja seksual yang akhirnya akan mengalami disfungsi.



Tabel 20.2-17
Kriteria diagnostik untuk disfungsi seksual akibat zat
  1. Disfungsi seksual yang bermakna secara klinis yang menyebabkan penderitaan yang jelas atau kesulitan interpersonal yang menonjol dalam gambaran klinis
  2. Terdapat bukti dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau temuan laboratorium bahwa disfungsi seksual adalah sepenuhnya dijelaskan oleh pemakaian zat seperti yang dimanifestasikan oleh salah satu (1) atau (2);
    1. Gejala dalam kriteria A timbul selama, atau dalam satu bulan, intoksikasi zat
    2. Pemakaian medikasi secara etiologis berhubungan dengan gangguan
  1. Gangguan tidak dapat diterangkan lebih baik oleh disfungsi seksual yang bukan diakibatkan zat. Bukti-bukti bahwa gejala adalah lebih baik diterangkan oleh disfungsi seksual yang bukan akibat zat seperti berikut; gejala mendahului onset pemakaian atau ketergantungan zat (atau pemakaian medikasi); gejala menetap selama waktu yang cukup lama (misalnya, kira-kira satu bulan) setelah hilangnya intoksikasi, atau cukup melebihi apa yang diperkirakan menurut jenis atau jumlah zat yang digunakan atau lama penggunaan; atau terdapat bukti lain yang mengarahkan adanya disfungsi seksual bukan akibat zat yang tersendiri (misalnya, riwayat episode rekuren yang tidak berhubungan dengan zat)

Catatan: diagnosis ini harus dibuat sebagai pengganti diagnosis intoksikasi zat hanya jika disfungsi seksual adalah melebihi apa yang biasanya berhubungan dengan sindrom intoksikasi dan jika disfungsi cukup parah sehingga memerlukan perhatian klinis tersendiri.

DSM-IV

Disfungsi seksual yang tidak ditentukan
            Kategori ini adalah untuk disfungsi seksual yang tidak dapat diklasifikasikan di bawah kategori yang dijelaskan di atas

Nyeri pascasenggama
ü  Ditandai oleh nyeri kepala segera setelah koitus dan dapat berlangsung selama beberapa jam
ü  Digambarkan sebagaai berdenyut, terlokalisasi si daerah osipitalis atau frontalis
ü  Penyebab tidak diketahui, mungkin vaskular, kontraksi otot, psikogenil
ü  Koitus dapat mencetuskan migrain atau nyeri kepala cluster

Anhedonia Orgasmik
Ø  Suatu keadaan dimana orang tidak memiliki fisik orgasme, walaupun komponen biologis (ex; ejakulasi) tetap utuh
Ø  Penyebab organik, ex; lesi sakral dan sefalik harus disingkirkan
Ø  Penyebab psikis biasanya berhubungan dengan rasa bersalah  yang ekstrem mengenai pengalaman kenikmatan seksual.

Nyeri mastrubasi
  • Penyebab organik harus disingkirkan
  • Seseorang yang mengalami nyeri selama mastrubasi

TERAPI
Terapi seks berdua

Ø  Kesatuan perkawinan sebagai objek terapi
Ø  Hubungan marital sebagai keseluruhan adalah yang diobati
Ø  Pasangan secara spesifik dilarang untuk melakukan permainan seksual selain daripada yang diintruksikan oleh ahli terapi
Ø  Belajar bahwa “foreplay” seksual adalah sama pentingnya dengan hubungan seksual dan orgasme itu sendiri
Ø  Terapi seks berdua adalah paling efektif jika disfungsi seksual ada yang terpisah dari psikopatologi lain

Teknik dan latihan spesifik;
Pada kasus vaginismus,
      Wanita dianjurkan untuk mendilatasikan vaginyanya dengan membukanya denga jari atau dengan dilator lain

Pada kasus ejakulasi premature,
      Suatu latihan yang dikenal sebagai teknik penekanan (squeeze technique) digunakan untuk meningkatkan ambang eksitabilitas penis

Stop-start technique, dimana wanita menghentikan semua stimulasi penis saat laki-laki pertama kali merasakan suatu ancaman ejakulasi, tidak dilakukan penekanan.

Gangguan orgasmik laki-laki ditangani dengan ejakulasi ekstravaginal pada awalnya dan secara bertahap memasuki vagina sampai saat mendekati ejakulasi

Hipnoterapi
Ø  Memusatkan terutama pada gejala yang menyebabkan kecemasa, yaitu pada disfungsu tertentu
Ø  Memungkinkan pasien mendapatkan control terhadap gejala yang telah menurunkan harga dirinya dan menganggu homeostasis psikologis
Ø  Pasien juga diajarkan teknik relaksasi yangdapat digunakan oleh dirinya sendiri sebelum hubungan seksual

Terapi perilaku
            Latihan ketegasan

Terapi kelompok
            Digunakan untuk memriksa masalah intrapsikis dan intrapersonal pada pasien dengan gangguan seksual

Terapi seks berorientasi analitik

Terapi biologis Terapi seks berdua

Ø  Kesatuan perkawinan sebagai objek terapi
Ø  Hubungan marital sebagai keseluruhan adalah yang diobati
Ø  Pasangan secara spesifik dilarang untuk melakukan permainan seksual selain daripada yang diintruksikan oleh ahli terapi
Ø  Belajar bahwa “foreplay” seksual adalah sama pentingnya dengan hubungan seksual dan orgasme itu sendiri
Ø  Terapi seks berdua adalah paling efektif jika disfungsi seksual ada yang terpisah dari psikopatologi lain

Teknik dan latihan spesifik;
Pada kasus vaginismus,
      Wanita dianjurkan untuk mendilatasikan vaginyanya dengan membukanya denga jari atau dengan dilator lain

Pada kasus ejakulasi premature,
      Suatu latihan yang dikenal sebagai teknik penekanan (squeeze technique) digunakan untuk meningkatkan ambang eksitabilitas penis

Stop-start technique, dimana wanita menghentikan semua stimulasi penis saat laki-laki pertama kali merasakan suatu ancaman ejakulasi, tidak dilakukan penekanan.

Gangguan orgasmik laki-laki ditangani dengan ejakulasi ekstravaginal pada awalnya dan secara bertahap memasuki vagina sampai saat mendekati ejakulasi

Hipnoterapi
Ø  Memusatkan terutama pada gejala yang menyebabkan kecemasa, yaitu pada disfungsu tertentu
Ø  Memungkinkan pasien mendapatkan control terhadap gejala yang telah menurunkan harga dirinya dan menganggu homeostasis psikologis
Ø  Pasien juga diajarkan teknik relaksasi yangdapat digunakan oleh dirinya sendiri sebelum hubungan seksual

Terapi perilaku
            Latihan ketegasan

Terapi kelompok
            Digunakan untuk memriksa masalah intrapsikis dan intrapersonal pada pasien dengan gangguan seksual

Terapi seks berorientasi analitik

Terapi biologis
            Memiliki penerapan yang terbatas
Ø  Methohexital sodium untuk desentisasi (intravena)
Ø  Abat anticemas untuk ketegangan
Ø  Trisiklik untuk pasien yang fobia terhadap seks
Ø  Banyak obat lain, tetapi masih kontrovesi
Ø  Terapi bedah jarang dianjurkan

Team Samo kito

1 komentar:

  1. Bingung Cari Situs Judi Online

    Terpercaya ?
    Sering kalah Ditempat

    lain..? Mungkin disini KEMENANGAN ANDA

    !
    Situs Betting Terpercaya Dan Terbesar

    di ASIA SATUQQ

    Menawarkan | Fasilitas |

    Keunggulan
    Deposit & Withdraw Minimal Rp.

    20.000,
    Deposit & Withdrawal Super Cepat
    BONUS ROLINGAN 0.5 % Tiap senin
    BONUS

    REFERAL 20 % Seumur Hidup
    Customer

    Service Sopan & Ramah Siap Membantu
    Live

    Chat Responsif 24 jam
    Real Fair Play

    100%
    Server Tercepat di Asia Tanpa Lelet
    Jangan berpikir dua kali, Daftar

    sekarang juga dan nikmati fasilitas nya
    DAFTAR SEKARANG
    AYO MENJADI MILLIARDER DI

    SATUQQ*NET , SITUS AGEN POKER DAN DOMINO

    ONLINE YANG TERBAIK , TERPERCAYA DAN

    TERBESAR DI INDONESIA , DENGAN WIN RATE

    TERTINGGI

    Hanya Dengan 1 User ID Kamu

    Dapat Bermain 9 Permainan

    BANDAR66


    POKER


    BANDARQ


    SAKONG

    DOMINOQQ


    BANDAR99


    BANDARPOKER
    CAPSASUSUN


    PERANGBACARAT

    SIAPA BILANG MODAL KECIL TIDAK BISA

    MENANG BANYAK !
    HANYA DENGAN MODAL AWAL

    RP 20.000 SAJA !!
    ANDA BISA MENANG

    PULUHAN SAMPAI RATUSAN JUTA
    SUDAH

    TERBUKTI
    HANYA DI satuqq net YANG BISA

    BEGINI

    AYO TUNGGU APA LAGI BOSKU..
    BONUS

    CASHBACK MINGGUAN 0.5% TANPA SYARAT
    BONUS

    REFERRAL 20% SEUMUR HIDUP
    Minimal Deposit

    & Withdraw Hanya Dengan Rp 20.000
    Pelayanan Super Top, Cepat Dan Responsif

    Serta Sangat Ramah
    Proses Deposit Dan

    Withdraw Hanya Membutuhkan Waktu Terlama

    2 Menit
    100% PLAYER VS PLAYER ( NO BOT )
    Untuk Keterangan Lebih Lanjut,Anda Bisa

    Mengubungi Kami Melalui :

    -WA :

    +855964907457
    -LINE : SatuQQ
    - DAFTAR KLIK

    >>

    SATUQQ

    BalasHapus