Asro Medika

Rabu, 16 November 2011

Gangguan Obsesif-Kompulsif




Gejala yang timbul :
  • Perasaan ragu dan hati – hati yang berlebihan.
  • Keterpakuan pada rincian, peraturan, daftar, perintah, organisasi, dan jadwal.
  • Perfeksionis yang menghambat penyelesaian tugas.
  • Ketelitian yang berlebihan, terlalu hati – hati, dan kecenderungan yang tidak semestinya untuk menciptakan kesenangan dan hubungan interpersonal.
  • Keterpakuan dan ketertarikan yang berlebihan pada kebiasaan sosial.
  • Kaku dan keras kepala.
  • Pemaksaan secara tidak masuk akal agar orang lain melakukan sesuatu menurut caranya, atau keengganan yang tak masuk akal mengizinkan orang lain melakukan sesuatu.
  • Mencampuradukkan pikiran atau dorongan yang bersifat memaksa atau yang tidak disukai.

Diagnosis Banding
Gangguan obsesif – kompulsif dibedakan dengan gangguan kepribadian obsesif – kompulsif berdasarkan adanya gangguan fungsi yang tidak ditemukan pada pasien gangguan kepribadian obsesif – kompulsif, tetapi ditemukan pada pasien gangguan obsesif – kompulsif.
Diagnosa skizofenia dapat disingkirkan dengan tidak adanya gejala – gejala skizofrenia (halusinasi dan waham) dan juga melalui tilikan pasien terhadap penyakitnya.
Gangguan neurologis lain yang harus dipertimbangkan sebagai diagnosis banding adalah sindrom Tourette, gangguan TIK lainnya, epilepsi lobus temporalis, dan kadang – kadang komplikasi post ensefalitis dan trauma. Gejala khas sindrom Tourette dalah TIK motorik dan fokal yang muncul sangat sering, bahkan hampir setiap hari. Sekitar 90% pasien dengan sindrom Tourette memiliki gejala kompulsi dan 2/3 memenuhi kriteria diagnostik gangguan obsesif – kompulsif.

Penegakan Diagnosis
F42.0 Predominan Pikiran Obsesif atau Pengulangan
Pedoman Diagnostik
-         Keadaan ini dapat berupa : gagasan, bayangan pikiran atau impulls (dorongan perbuatan), yang sifatnya mengganggu (ego alien).
-         Meskipun isi pikiran tersebut berbeda – beda, umumnya hampir selalu menyebabkan penderitaan (distress).
F42.1 Predominan Tindakan Kompulsi
Pedoman Diagnostik
-         Umumnya tindakan kompulsif berkaitan dengan : kebersihan (khususnya mencuci tangan), memeriksa berulang untuk meyakinkan bahwa suatu situasi yang dianggap berpotensi bahaya tidak terjadi atau masalah kerapihan dan keteraturan.
Hal tersebut dilatar belakangi perasaan takut terhadap bahaya yang mengancam dirinya atau bersumber dari dirinya dan tindakan ritual tersebut meriupakan ikhtiar simbolik dan tidak efektif untuk menghindari bahaya tersebut.
-         Tindakan ritual kompulsif tersebut menyita waktu sampai beberapa jam dalam sehari dan kadang – kadang berkaitan dengan ketidakmampuan mengambil keputusan dan kelambanan.
F42.2 Campuran Pikiran dan Tindakan Obsesif
Pedoman Diagnostik
-         Kebanyakan dari penderita – penderita obsesif – kompulsif memperlihatkan pikiran serta tindakan kompulsif.
Diagnosis ini digunakan bilamana kedua hal tersebut sama – sama menonjol, yang umumnya memang demikian.
-         Apabila salah satu memang jelas lebih dominan, sebaiknya dinyatakan dalam diagnosis F42.0 atau F42.1. Hal ini berkaitan dengan respon yang berbeda terhadap pengobatan. Tindakan kompulsif lebih responsif terhadap terapi perilaku.
 F42.8 Gangguan Obsesif – Kompulsif Lainnya
F42.9 Gangguan Obsesif – Kompulsif Yang Tidak Tergolongkan

Diagnosis Kerja
Gangguan Obsesif-Kompulsif

Definisi
Obsesi adalah ketekunan yang patologis dari suatu pikiran atau perasaan yang tidak dapat ditentang yang tidak dapat dihilangkan dari kesadaran oleh usaha logika, yang disertai dengan kecemasan. Sedangkan kompulsi adalah kebutuhan yang patologis untuk melakukan suatu impuls yang jika ditahan menyebabkan kecemasan. Gangguan obsesif – kompulsif merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya pengulangan pikiran obsesif atau kompulsif, dimana membutuhkan banyak waktu (lebih dari satu jam perhari) dan dapat menyebabkan penderitaan (distress)

Etiologi
Faktor Biologis
            Banyak penelitian yang mendukung adanya hipotesis bahwa disregulasi serotonin berpengaruh pada pembentukan gejala gangguan obsesif – kompulsif, tetapi serotonin sebagai penyebab gangguan obsesif kompulsif masih belum jelas. Genetik juga diduga berpengaruh untuk terjadinya gangguan obsesif – kompulsif dimana ditemukan perbedaan yang bermakna antara kembar monozigot dan dizigot.
 Faktor Tingkah Laku
            Menurut  teori, obsesi adalah stimulus yang terkondisi. Sebuah stimulus yang relatif netral diasosiasikan dengan rasa takut atau cemas melalui proses pengkondisian responden yaitu dengan dihubungkan dengan peristiwa – peristiwa yang menimbulkan rasa cemas atau tidak nyaman. Kompulsi terjadi dengan cara yang berbeda. Ketika seseorang menyadari bahwa perbuatan tertentu dapat mengurangi kecemasan akibat obsesif, orang tersebut mengembangkan suatu strategi penghindaran aktif dalam bentuk kompulsi atau ritual untuk mengendalikan kecemasan tersebut. Secara perlahan, karena efikasinya dalam mengurangi kecemasan, strategi penghindaran ini menjadi suatu pola tetap dalam kompulsi.
Faktor Psikososial
            Menurut Sigmund Frued, gangguan obsesif – kompulsif bisa disebabkan karena regresi dari fase anal dalam fase perkembangannya.2 Mekanisme pertahanan psikologis mungkin memegang peranan pada beberapa manifestasi gangguan obsesif – kompulsi. Represi perasaan marah terhadap seseorang mungkin menjadi alas an timbulnya pikiran berulang untuk menyakiti orang tersebut.


Epidemiologi
Prevalensi dari gangguan obsesif – kompulsif pada populasi umum adalah 2 -3%. Pada sepertiga pasien obsesif – kompulsif, onset gangguan ini adalah sekitar usia 20 tahun, pada pria sekitar 19 tahun dan pada wanita sekitar 22 tahun. Perbandingan yang sama dijumpai pada laki-laki dan perempuan dewasa, akan tetapi remaja laki – laki lebih mudah terkena daripada remaja perempuan

Gejala Klinis
Gejala pasien gangguan obsesif – kompulsif mungkin berubah sewaktu – waktu tetapi gangguan ini mempunyai empat pola gejala yang paling sering ditemui, yaitu :
  1. Kontaminasi
Obsesi akan kontaminasi biasanya diikuti oleh pembersihan atau kompulsi menghindar dari objek yang dirasa terkontaminasi. Objek yang ditakuti biasanya sulit untuk dihindari, misalnya feces, urine, debu, atau kuman.
  1. Keraguan Patologis
Obsesi ini biasanya diikuti oleh kompulsi pemeriksaan berulang. Pasien memiliki keraguan obsesif dan merasa selalu merasa bersalah tentang melupakan sesuatu atau melakukan sesuatu.
  1. Pemikiran yang Mengganggu
Obsesi ini biasanya meliputi pikiran berulang tentang tindakan agresif atau seksual yang salah oleh pasien.
  1. Simetri
Kebutuhan untuk simetri atau ketepatan akan menimbulkan kompulsi kelambanan. Pasien membutuhkan waktu berjam – jam untuk menghabiskan makanan atau bercukur.
Beberapa gejala yang berhubungan dengan gangguan obsesif – kompulsif adalah sebagai berikut :
OBSESI
KOMPULSI
Perhatian terhadap kebersihan (kotoran, kuman, kontaminasi)
Ritual mandi, mencuci dan membersihkan yang berlebihan
Perhatian terhadap ketepatan
Ritual mengatur posisi berulang – ulang
Perhatian terhadap peralatan rumah tangga (piring, sendok)
Memeriksa berulang – ulang dan membuat inventaris peralatan
Perhatian terhadap sekresi tubuh (ludah, feces, urine)
Ritual menghindari kontak dengan sekret tubuh, menghindari sentuhan
Obsesi religius
Ritual keagamaan yang berlebihan (berdoa sepanjang hari)
Obsesi seksual (nafsu terlarang atau tindakan seksual yang agresif)
Ritual berhubungan seksual yang kaku
Obsesi terhadap kesehatan (sesuatu yang buruk akan terjadi dan menimbulkan kematian)
Rituall berulang (pemeriksaan tanda vital berulang, diet yang terbatas, mencari informasi tentang kesehatan dan kematian
Onsesi ketakutan (menyakiti diri sendiri atau orang lain)
Pemeriksaan pintu, kompor, gembok dan rem darurat berulang – ulang
Pemikiran mengganggu tentang suara, kata – kata atau musik
Menghitung, berbicara, menulis, memainkan alat musik dengan suatu ritual yang beragam

Penatalaksanaan
Ada beberapa terapi yang bisa dilakukan untuk penatalaksanaan gangguan obsesif – kompulsif antara lain terapi farmakologi (farmakoterapi) dan terapi tingkah laku. Kombinasi kedua bentuk terapi tersebut memberikan hasil yang lebih efektif daripada terapi tunggal.4

Farmakoterapi
            Dua kelompok obat – obatan yang terbukti efektif untuk terapi pada pasien gangguan obsesif – kompulsif adalah SSRI antara lain fuoxetine, fluvoxamine, paroxetine, setraline, dan TCA yaitu clomipramine.2,3,4 Dosis dan efek samping adalah sebagai berikut :
Pengobatan
Dosis Inisial Harian
Dosis Target Harian
Efek Samping
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor
Fluoxetine (prozac)
Fluvoxamine (luvox)
Sertraline (paxil)
Paroxetine (paxil)
Citalopram (celexa)
Escitalopram (lexapro)
mg


20

50

20
20
20

10

mg


80

300

200
60
60

Tidak diketahui
Anxietas, penurunan libido, disfungsi seksual, diare, sedasi, sakit kepala, insomnia, mual, dizziness
Clomipramine (anafranil, tricyclic antidepressant)
25 - 50
250
Dizziness, sedasi, mulut kering, peningkatan BB, disfungsi seksual
Venlafaxine (effexor)
75
375
Gangguan akomodasi, pandangan kabur, sakit kepala, parastesia, mual, penurunan BB, withdrawl syndrome (dizziness, mual, lemah)

Terapi Tingkah Laku
            Baku emas terapi tingkah laku untuk gangguan obsesif – kompulsif meliputi paparan dan pencegahan ritual. Pada terapi ini pasien dipaparkan dengan stimuli yang memprovokasi obsesinya misalnya dengan menyentuh objek yang terkontaminasi dan juga pasien ditahan untuk tidak kompulsi misalnya menunda mencuci tangan.
            Terapi tingkah laku ini dimulai dengan pasien membuat daftar tentang obsesinya kemudian diatur sesuai hierarki mulai dari yang kurang membuat cemas sampai yang paling membuat cemas. Dengan melakukan paparan berulang terhadap stimulus diharapkan akan menghasilkan kecemasan yang minimal karena adanya habituasi.

Prognosis
            Sekitar 20 – 30% pasien menunjukkan perubahan gejala yang signifikan. 40 – 50% menunjukkan perubahan sedang, sedangkan sekitar 20 – 40% tetap terganggu bahkan bertambah parah.
            Beberapa kondisi yang dapat memperburuk prognosis gangguan obsesif – kompulsif adalah apabila pasien tidak mampu menahan dorongan kompulsi, onset pada masa kecil, kompulsi yang aneh atau kacau, pasien rawat inap disertai gangguan depresi berat, keyakinan delusional atau gangguan skizotipal, tidak respon atau menolak terapi yang dianjurkan. Prognosis pasien dinyatakan baik apabila kehidupan sosial dan pekerjaan baik, adanya stressor dan gejala yang bersifat periodik.

Team Samo Kito

Tidak ada komentar:

Posting Komentar