Asro Medika

Rabu, 16 November 2011

gangguan perkembangan


GANGGUAN BELAJAR
Gangguan belajar adalah defisit pada anak dan remaja di dalam mencapai keterampilan membaca, menulis, berbicara, penggunaan pendengaran, memberikan alasan, atau matematika yang diharapkan, dibandingkan dengan anak lain berusia sama dan dengan kapasitas intelektual yang sama.

GANGGUAN MEMBACA
Di dalam DSM-IV-TR, gangguan membaca (dahulu disebut disleksia) didefinisikan sebagai pencapaian di bawah tingkat yang diharapkan untuk usia, pendidikan dan intelegensia anak. Hendaya ini secara signifikan mengganggu keberhasialan akademik atau aktivitas harian yang melibatkan membaca.

Epidemiologi
Suatu perkiraan sebesar 4 persen anak usia sekolah di Amerika Serikat memiliki gangguan membaca. Studi prevalensi menemukan angka yang berkisar antara 2 dan 8 persen. Anak laki-laki tiga hingga empat kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan.
Komorbiditas
Anak dengan gangguan membaca memiliki resiko yang lebih tinggi dari rata-rata untuk mengalami juga masalah perhatian, gangguan perilaku yang mengganggu (cth. gangguan tingkah laku), dan gangguan depresif. Data mengesankan bahwa hingga 25 persen anak dengan gangguan membaca juga memiliki ADHD. Studi keluarga menunjukkan bahwa mungkin terdapat beberapa faktor genetik sama yang menyebabkan gangguan membaca dan sindrom yang terkait dengan perhatian.
Etiologi
Tidak ada satu etiologi tunggal pun yang didefinisikan sebagai penyebab gangguan membaca : faktor genetik, faktor perkembangan, dan faktor lingkungan dapat turut berperan terhadap defisit inti gangguan membaca. Riset menemkan bahwa defisit utama pada anak dengan gangguan membaca terletak di dalam domain penggunaan bahasa.
Beberapa studi terkini mengesankan bahwa pemahaman fonologis (yi., kemampuan memahami bunyi dan mengeluarkan kata-kata) terkait dengan kromsom 6. Lebih jauh lagi, kemampuan identifikasi kata tunggal terkait dengan kromosom 15.
Insiden gangguan membaca yang lebih tinggi dari rata-rata terdapat pada anak dengan intelegensia normal yang mengalami palsi serebral. Insiden gangguan membaca yang sedikit meningkat terdapat di antara anak-anak yang mengalami epilepsi. Komplikasi selama kehamilan; kesulitan pranatal dan perinatal termasuk prematuritas; dan berat lahir rendah lazim ada di dalam riwayat anak dengan gangguan membaca. Anak dengan lesi otak pasca llahir di lobus oksipital kiri, yang menimbulkan kebutaan lapang pandang, dapat memiliki gangguan membaca sekunder, demikian juga anak dengan lesi di splenium korpus kolasum yang menyekat transmisi informasi visual dari hemisfer kanan yang intak ke area di hemisfer kiri.
Diagnosis
Gangguan membaca didiagnosis jika pencapaian membaca seorang anak secara signifikan di bawah tingkat yang diharapkan pada anak dengan usia dan kapasita intelektual yang sama. Ciri diagnosis yang khas mencakup kesulitan mengingat kembali, membangkitkan, dan merangkai huruf  dan kata yang tercetak, memroses konstruksi gramatis yang canggih dan membuat kesimpulan.
Gambaran klinis
Anak yang mengalami gangguan membaca biasanya dapat diidentifikasi pada usia 7 tahun (kelas 2). Kesulitan membaca dapat tampak jelas pada anak di dalam kelas saat keterampilan membaca diharapkan dapat diperoleh pada kelas satu. Anak kadang-kadang dapat mengkompensasi gangguan membaca pada tingkat dasar awal dengan menggunakan memori dan kesimpulan, terutama ketika gangguan ini disertai dengan intelegensi yang tinggi. Pada keadaan seperti ini, ganguan bisa tidak terlihat nyata sampai usia 9 tahun (kelas 4) atau lebih.
Patologi dan Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada tanda fisik atau ukuran laboratorium spesifik yang membantu di dalam menegakkan diagnosis gangguan membaca. Diagnosis gangguan membaca ditegakkan setelah mengumpulkan data dari tes intelegensi standar dan penilaian pencapaian pendidikan. Rangkaian diagnostik umumnya mencakup tes mengeja standar, komposisi tulisan, memroses dan menggunakan bahasa oral, serta membuat salinan.
Perjalanan Gangguan dan Prognosis
Banyak anak dengan gangguan membaca mendapatkan pengetahuan dari bahasa yang dicetak pada masa 2 tahun peertama sekolah dasar, bahkan tanpa bantuan untuk memperbaikinya. Jika diberikan dini, pada kasus yang lebih ringan, tidak diperlukan lagi terapi perbaikan di akhir kelas satu atau dua. Pada kasus yang berat dan bergantung pada pola defisit dan kekuatan, terapi remedial dapat dilanjutkan hingga sekolah menengah atau tingkat SMU.
Diagnosis Banding
Gangguan membaca serin disertai gangguan lain seperti gangguan bahasa ekspresif, gangguan ekspresi tulisan, da ADHD. Sttudi terkini menunjukkan bahwa anak dengan gangguan membaca secara terus-menerus menunjukkan kesulitan dengan kemampuan bahasa, sedangkan anak dengan ADHD  tidak demikian. Defisit di dalam bahasa ekspresif dan diskriminasi bicara yang terdapat di dalam gangguan membaca dapat cukup berat sehingga memerlukan diagnosis tamahan gangguan bahasa ekspresif atau gangguuan bahasa campuan reseptif-ekspresif. Gangguan membaca harus dibedakan dengan sindroom retardasi mental yaitu membaca dan juga keterampilan lain, berada dibawah tingkat pencapaian yang diharapkan untuk usia kronologis seorang anak. Tes intelektual membantu membedakan defisit global dengan kesulitan membaca yang lebih spesifik. Gangguan mendengar dan melihat harus disingkirkan menggunakan uji penapisan.
Terapi
Banyak program terapi remedialyang efektif dimulai dengan mengajari anak tersebut untuk membuat hubungan yang akurat antara huruf dan bunyi. Setelah keterampilan itu dikuasai, terapi remedial dapat menargetkan komponen membaca yang lebih besar, seperti suku kata dan kata. Fokus pasti dari setiap program membaca hanya dapat ditentukan setelah dilakukan penilaian akurat mengenai defisit spesifik seorang anak serta kelemahannya.  Strategi koping yang positif mencakup kelompok membaca kecil dan terstruktur yang memberikan perhatian individual sehingga membuat anak tersebut lebih mudah untuk meminta bantuan.
Program instruksi membaca dimulai dengan memusatkan pada setiap huruf dan bunyi, kemudian meningkatkan penguasaan inti fonetik sederhana, diikutin dengan menyatukan uni-unit ini menjadi kata dan kalimat. Progam terapi remedial membaca lainnya, seperti program Merrill dan SRA Basic Reading Program, dimulai dengan memperkenalkan kata terlebih  dahulu, kemudian mengajari anak bagaimana memecahnya dan mengenali bunyi suku kata serta setiap huruf di dalam kata tersebut. Penddekatan lain, seperti Bridge Reading Program, mengajari anak dengan gangguan membaca untuk mengenali keseluhan keseluruhan kata melalui penggunaan bantuan visualdan meminta proses “membunyikannya”. Metode Ferald menggunakan pendekatan multisensorik yang mengkombinasikan  antara mengajari keseluruhan kata dengan teknik melacak sehingga anak tersebut memiliki stimulasi kinestetik sambil belajar membaca kata-kata.

GANGGUAN MATEMATIKA
Anak dengan gangguan matematika memiliki kesulitan mempelajari dan mengingat angka, dan lambat serta tidak akurat di dalam menghitung. Pencapaian yang buruk di dalam empat kelompok keterampilan telah diidentifikasi di dalam gangguan matematika: keterampilan linguistik (yang terkait dengan pemahaman istilah matematis dan mengubah soal tertulis  menjadi simbol matematika), keterampilan persepsi (kemampuan mengenali dan memahami simbol dan mengurutkan serangkaian angka), keterampilan matematis (penambahan, pengurangan, pengalian, pembagian dasar, dan serangkaian operasi matematika dasar), serta keterampilan atensional (menyalin angka dengan tepat serta mengamati simbol-simbol operasional dengan benar).
Epidemiologi
Prevalensi gangguan matematika sendiri diperkirakan terjadi dalam kira-kira 1 persen anak-anak usia sekolah, yaitu kira-kira satu dari lima anak dengan gangguan belajar. Studi epidemiologi menunjukkan bahwa hingga 6 persen anak-anak usia sekolah memiliki kesulitan dalam matematika. Gangguan matematika dapat terjadi dengan frekuensi yang lebih tinggi pada anak perempuan.
Komorbiditas
Gangguan matematika lazim ditemukan bersamaan dengan gangguan membaca dan gangguan ekspresi tertulis. Anak dengan dangguan matematika juga dapat memiliki risiko tinggi mengalami gangguan bahasa ekspresif, gangguan campuran bahasa reseptif-ekspresif, serta gangguan koordinasi perkembangan.
Etiologi
Timbulnya gangguan matematika, serupa dengan gangguan belajar lain, cenderung disebabkan setidaknya sebagian oleh faktor genetik. Suatu teori awal mengajukan defisit neurologis hemisfer serebri kanan, terutama pada area lobus oksipitalis. Regio ini bertanggung jawab untuk memroses stimulus visuospasial yang selanjutnya bertanggung jawab untuk keterampilan matematis.
Saat ini, penyebabnya dianggap multifaktor, sehingga faktor kematangan, kognitif, emosional, pendidikan, dan sosioekonomik turut berperan di dalam berbagai derajat dan kombinasi untuk gangguan matematika.  

Diagnosis
Diagnosis gangguan matematika ditegakkan ketika keterampilan matematika seorang anak jatuh secara signifikan di bawah tingkat yang diharapkan untuk usia anak, kemampuan intelektual, dan pendidikannya. Diagnosis pasti dapat ditegakkan hanya setelah anak tersebut menjalani tes aritmatika standar yang diberikan secara individual serta nilainya secara nyata berada di bawah tingkat yang diharapkan, dalam hal kapasitas intelektual dan sekolah anak seperti yang diukur melalui tes intelegensi standar. Gangguan perkembangan pervasif dan retardasi mental juga harus disingkirkan sebelum meyakinkan diagnosis gangguan matematika.

Gambaran Klinis
 Gambaran gangguan matematika yang lazim ditemukan mencakup kesulitan dengan berbagai komponen matematika, seperti mempelajari nama angka, mengingat tanda untuk penambahan dan pengurangan, mempelajari tabel perkalian, menerjemahkan soal dalam kata menjadi perhitungan, dan melakukan perhitungan dengan kecepatan yang diharapkan.
Gangguan matematika sering terdapat bersamaan dengan gangguan bahasa lain dalam hal membaca, tulisan ekspresif, koordinasi, dan bahasa ekspresif serta reseptif. Masalah dalam mengeja, defisit atensi atau emmori, serta masalah emosional dan perilaku dapat ditemukan. Anak kelas awal pertama sering kali menunjukkan ganggua belajar lain dan harus diperiksa adanya gangguan matematika. Anak dengan palsi serebral dapat mengalami gangguan matematika dengan intelegensi keseluruhan yang normal.

Patologi dan Pemeriksaan Laboratorium
Tidak ada tanda atau gejala fisik yang menunjukkan gangguan matematika, tetapi uji edukasional dan ukuran fungsi intelektual stadar diperlukan untuk menegakkan diagnosis ini. Keymath Diagnostic Arithmetic Test mengukur beberapa area matematika termasuk pengetahuan akan kandungan, fungsi, dan perhitungan matematis. Tes ini digunakan untuk menilai kemampuan matematika pada anak kelas 1 sampai 6.

Diagnosis Banding
Gangguan matematika harus dibedakan dengan penyebab global gangguan fungsi seperti sindrom retardasi mental. Kesulitan aritmatika di dalam retardasi mental disertai dengn hendaya menyeluruh di dalam keseluruhan fungsi intelektual. Pada kasus retardasi mental ringan yang tidak biasa, keterampilan aritmatika dapat secara signifikan berada dibawah tingkat yang diharapkan, berdasarkan derajat pendidikan dan tingkat retardasi mental orang tersebut. Pada kasus seperti itu, diagnosis tambahan gangguan matematika harus ditegakkan : terapi kesulitan aritmatika terutama dapat membantu bagi kesempatan anak dipekerjakan di masa dewasanya. Sekolah yang tidak adekuat sering dapat mempengaruhi kinerja arimatika yang buruk pada uji arittmatika standar. Gangguan tingkah lakuu atau DHD dapat terjadi bersama dengan gangguan matematika : dan pada kasus ini, kedua diagnosis harus ditegakkan.

Terapi
Saat ini, terapi yang paling efektif untuk gangguan matematika menggabungkan antara mengajarkan konsep matematika dengan praktik terus-menerus di dalam menyelesaikan soal matematika. Difisit keterampilan sosial dapat turut berperan di dalam keengganan anak untuk meminta bantuan sehingga anak yan diidentifikasidengan gangguan matematika bisa mendapatan keuntungan dari mendapatkan keterampila menyelesaikan masalah di dalam lingkungansosial juga di dalam matematika

GANGGUAN EKPRESI TERTULIS
Gangguan ekspresi tulisan ditandai dengan keterampilan menulis yan secara signifikan di nawah tingkat yang diharapkan untuk asia dan kapasitas intektual anak. Kesulitan ini menganggu kinerja akademik dan tuntutan untuk menulis dalam kehidupan sehari-hari. Banyak komponen gangguan ekspresi tertulis  mencakup meneja yang buruk. Kesalahan tatabahasa dan tanda baca, seta tulisan gangan yang buruk.

Epidemiologi
Prevalensi gangguan ekspresi tertulis saja belum dipelajari, tetapi seperti gangguan membaca, diperkirakan terjadi pada kira-kira 4 persen anak usia sekolah. Diperkirakan bahwa rasio gender pada gangguan ekspresi tertulis serupa dengan gangguan membaca, terjadi sekitar tiga kali lebih banyak pada laki-laki. Gamggua ekspresi tertulis sering  terjadi bersama dengan gangguan membaca, tetapi tidak selalu.

Komorbiditas
Anak dengan gangguan ekspresi tertulis memiliki resiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai gangguan belajar, dan bahasa lainnya termasuk gangguan membaca, gangua matematika, dan gangguan baca ekspreif erta reseptif. ADHD terjadi dalamm prekuensi yan lebih tinggi pada anak dengan ganggual ekspresi tertulis dibandingkan populasi umum. Akhinya anak dengan gangguan ekspresi tertulis diyakini memiliki resiko tinggi untuk mengalami kesulitan keterampilan sosial, dan beberapa diantaranya harus memiliki kepercayaan diri yan uruk serta mengalami gejala defresi.

Etiologi
Penyebab gangguan ekspresi tertulis diyakini serupa dengan gangguan mmbaca yaitu defisit di ddalam penggunaan komponen bahasa yang terkait dengan bunyi huruf. Tampaknya, faktor genetik mempermainkan peranan didalam timbulnya gangguan ekspresi tertulis. Predisposisi herediter terhadap gangguan ini disokong dengan temuan bahwa sebagian besar anak dengan gangguan ekspresi ertulis memiliki kerabat derajat pertama dengan gangguan ini. Anak dengan rentang perhatian yang terbatas dan sangat mudah teraih perhatiannya dapat mersakan bahwa menulis merupakan tugas yang melelahkan.

Diagnosis
Diagnosis gangguan ekspresi tertuls didasari pada kinerja anak yang buruk dalam menyusun teks tertulis, termasuk tulisan tangan dan gangguan kemampuan untuk  mengeja serta meletakkan kata-kata berurutan dalam kalimatyang koheren, dibandinkan dengan sebagian besar anak yang berusia dengan kemampuan intelektual yang sama.

Gambaran klinis
Anak dengan gangguan ekspresi tertulis memiliki kesulitan diawal seklahnya di dalam mengeja kata-kata dan di dalam mengekspresikan pikirannya sesuai dengan norma tata bahasa sesuai usia. Gambaran lazim gangguan ekspresi tertulis ini mencakup kesalahan tata bahasa, kesalahan tanda baca, penyusunan paragraf yang buruk, dan tulisan tangan yang buruk. Gambaran lain yang terkait gangguan ini mencakup penolakan atau keengganan untuk pergi ke sekolah dan melakukan pekerjaan rumah tertulis yang ditugaskan, kinerja akademik yang buruk di area lain (cth., matematika), penghindaran umum terhadap pekerjaan sekolah, bolos, defisit atensi, dan gangguan tingkah laku.
Banyak anak dengan gangguan ekspresi tertulis menjadi frustasi dan marah karena perasaan kekurangan dan kegagalan kinerja akademik. Pada kasus yang berat, gangguan depresif dapat timbul akibat semakin tumbuhnya rasa isolasi, asing, dan putus asa.

Patologi dan Pemeriksaan Laboratorium
Meskipun tidak ada stigmata fisik pada gangguan menulis, tes pendidikan digunakan di dalam menegakkan diagnosis gangguan ekspresi tertulis. Tes bahasa yang sekarang tersedia mencakup TOWL, DEWS, dan Test of Early Written Language (TEWL). Seorang anak yang dicurigai memiliki gangguan ekspresi tertulis pertama kali harus diberikan tes intelektual standar, seperti WISC-III atau Wechsler Adult Intelligence Scale yang telah direvisi (WAIS-R) untuk menentukan kapasitas intelektual keseluruhan seorang anak.
Perjalanan Gangguan dan Prognosis
Pada kasus yang berat, gangguan ekspresi tertulis tampak nyata pada usia 7 tahun (kelas dua); pada kasus yang lebih ringan, gangguan ini bisa tidak terlihat jelas hingga usia 10 tahun (kelas lima) atau lebih. Sebagian besar orang dengan gangguan ekspresi tertulis ringan atau sedang cukup baik jika mereka mendapatkan edukasi remedial pada waktu yang tepat di awal masa sekolah dasarnya. Gangguan ekspresi tertulis yang berat memerlukan terapi remedial yang ekstensif dan berkelanjutan sepanjang bagian akhir masa SMU dan bahkan hingga akademi.
Prognosis bergantung pada keparahan gangguan, usia atau kelas ketika intervensi remedial dimulai, lama dan keberlanjutan terapi, dan ada atau tidak adanya masalah perilaku atau emosional sekunder atau terkait.

Diagnosis Banding
Seseorang harus menentukan apakah gangguan lain seperti ADHD atau gangguan depresif membuat anak tidak dapat berkonsentrasi pada tugas tertulis, tanpa adanya gangguan ekspresi tertulis itu sendiri. Jika keadaanny seperti ini, terapi untk gangguan di atas seharusnya memperbaiki kinerja menulis seorang anak. Gangguan ekspresi tertulis juga dapat terjadi bersama dengan berbagai gangguan belajar serta bahasa lainnya. Gangguan terkait yang lazim lainnya adalah gangguan membaca, gangguan campuran bahasa reseptif-ekspresif, gangguan bahasa ekspresif, gangguan matematika, gangguan koordinasi perkembangan, dan perilaku mengganggu serta gangguan defisit atensi (attention-deficit disorder).

Terapi
Terapi remedial untuk gangguan ekspresi tertulis mencakup praktik langsung mengeja dan menulis kalimat, serta mengkaji ulang aturan tata bahasa. Pemberian terapi menulis kreatif dan ekspresif yang intensif, berkelanjutan dan dirancang khusus secara individual dan satu-satu tampak memberi hasil yang baik.

GANGGUAN BELAJAR YANG TIDAK TERGOLONGKAN
Gangguan belajar yang tidak tergolongkan adalah kategori baru di dalam DSM-IV-TR untuk gangguan yang tidak memenuhi kriteria gangguan belajar spesifik, tetapi menimbulkan hendaya dan mencerminkan kemampuan belajar di bawah tingkat yang diharapkan untuk intelegensi, pendidikan, dan usia seseorang. Suatu contoh hendaya yang dapat ditempatkan pada kategori ini adalah defisit keterampilan mengeja.

Team Samo Kito

Tidak ada komentar:

Posting Komentar