Asro Medika

Selasa, 15 November 2011

Autistic Spectrum Disorder



Definisi
          Autistic Spectrum Disorder (ASD) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu jenis masalah neurologis yang mempengaruhi pikiran, persepsi, dan perhatian yang sudah tampak sebelum usia 3 tahun dan membuat anak dengan ASD tidak mampu berkomunikasi, tidak mampu mengekspresikan perasaan, maupun keinginan sehingga perilaku dan hubungan dengan orang lain menjadi terganggu.
Autisme berasal dari kata autis yang berarti sendiri, pasien penderita autisme merasa memiliki dunianya sendiri. Biasanya mereka masa bodoh dengan apa yang terjadi di lingkungannya.
Interaksi dengan lingkungan dapat bersifat:
a.       Hipersensitif terhadap suara seperti suara AC, bahkan suara pemotong rumput.
b.      Hiposensitif, bila jatuh tidak merasa sakit, kulit terluka juga tidak sakit. Tidak takut akan bahaya.
Keterangan di atas menjelaskan bahwa autism dapat memiliki interaksi yang berbeda di antaranya hiposensitif yang ada pada scenario.
           
ETIOLOGI
Kenyataan bahwa faktor-faktor penyebab autis sampai saat ini belum diketahui dengan pasti, hanya ada beberapa teori lain yang mendukung terhadap timbulnya ganggguan autistik diantarnya:

1. Teori psikososial

Leo Kanner menyatakan bahwa adanya pengaruh psikogenik sebagai penyebab autisme dimana orangtua yang emosional , kaku dan obsesif yang mengasuh anak mereka dalam suatu keluarga, maka secara tidak langsung akan mempengaruhi terhadap perkembangan emosi anak. Anak menjadi tidak hangat dan selalu dingin. Akibat dari pola pengasuhan yang tidak kondusif sangat mempengaruhi kestabilan perkembangan anak baik emosi maupun sosial, sehingga keadaan ini dapat memicu timbulnya gejala autis pada anak.

2. Teori biologis
           
Teori ini menjadi berkembang karena beberapa fakta seperti berikut:
Adanya hubungan yang erat dengan retardasi mental (75-80%), perbandingan laki-laki : Perempuan = 4:1, meningkatnya insiden gangguan kejang (25%) dan adanya berbagai kondisi yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Walaupun sampai saat ini belum diketahui dengan pasti dimana letak abnormalitasnya, diduga adanya disfungsi dari kemungkinan adanya kelainan di otak
Berbagai kondisi tersebut antara lain:

a) Faktor Genetik

Hasil penelitian pada keluarga dan anak kembar menunjukkan adanya faktor genetik yang berperan dalam perkembangan autisme. Pada anak kembar 1 telor sekitar 36-89% sedang pada anak kembar 2 telur 0%. Ini menunjukkan bahwa autsme diturunkan lebih banyak pada kembar satu telur.
Selain itu, ditemukan adanya hubungan autisme dalam sindrom fragile-X, yaitu suatu kelainan dari kromosom X. Pada sindrom fragile-X ditemukan kumpulan berbagai ciri seperti retardasi mental dari yang ringan sampai berat, kesulitan belajar ringan, daya ingat jangka pendek yang kurang, fisik yang abnormal pada 80% laki-laki dewasa, Clumsiness (kaku lumpuh), serangan kejang, dan hiper-refleksi. Sering tampak pula gangguan perilaku seperti hiperaktif, gangguan pemusatan perhatian, impulsif, dan anxietas.
Gambaran autistik seperti tidak mau kontak mata, stereotipi, pengulangan kata-kata, perhatian/minat yang terpusat pada suatu benda/obyek juga sering ditemukan. Diduga terdapat 0-20% sindrom fragile-X pada autisme. Walau demikian hubungan kedua kondisi ini masih diperdebatkan.

b) Faktor Pranatal

Gangguan penyulit (Komplikasi) pranatal, natal, dan neonatal, yang meningkat juga ditemukan pada anak autistik. Komplikasi yang paling sering dilaporkan adanya pendarahan setelah trimester pertama dan adanya kotoran janin, cairan amnion yang merupakan tanda bawaan dari janin (fetal distress).
Penggunaan obat-obatan tertentu pada ibu yang mengandung diduga ada hubungan dengan timbulnya autisme. Adanya komplikasi waktu bersalin seperti terlambat menangis, gangguan pernafasan, anemia pada janin juga diduga ada hubungan dengan autisme.

c) Model Neuroanatomi

Berbagai kondisi neuropatologi (gangguan saraf) diduga dapat mendorong timbulnya gangguan perilaku pada autisme, ada beberapa daerah di otak anak autistik yang diduga mengalami disfungsi. Adanya kesamaan perilaku autistik dan perilaku abnormal pada orang dewasa yang diketahui mempunyai lesi (perlukaan) di otak, dijadikan dasar dari beberapa teori penyebab autisme.

d) Hipotesis Neurokimia

Sejak ditemukan adanya kenaikan kadar serotonin di dalam darah pada sepertiga anak autistik tahun 1961, fungsi neurotransmitter pada autisme menjadi fokus perhatian banyak peneliti. Dengan anggapan bila disfungsi neurokemistri yang ditemukan merupakan dasar dari perilaku dan kognitif yang abnormal tentunya dengan terapi obat diharapkan disfungsi sistem neurotransmiter ini akan dapat diperbaiki. Beberapa jenis neurotransmiter yang diduga mempunyai hubungan dengan autisme antara lain: serotonin dopamin, dan opioid endogen.

3. Teori Imunologi
Ditemukannya penurunan respon dari sistem imun pada beberapa anak autistik meningkatkan kemungkinan adanya dasar imunologis pada beberapa kasus autisme. Ditemukan antibodi beberapa ibu terhadap antigen leukosit anak mereka yang autistik, memperkuat dugaan ini karena ternyata antigen leukosit itu juga ditemukan pada sel-sel otak, sehingga antibodi ibu dapat secara langsung merusak jaringan saraf otak janin, yang menjadi penyebab timbulnya autisme.

4. Infeksi Virus
Peningkatan frekuensi yang tinggi dari gangguan autisme pada anak-anak dengan congenital, rubella, herpes simplex encephalitis, dan cytomegalovirus efection, juga pada anak-anak selama musim semi dengan kemungkinan ibu menderita influensa musim dingin saat mereka (anak) ada di dalam rahim, telah membuat para peneliti infeksi virus ini mengatakan bahwa hal ini, merupakan salah satu penyebab autisme.

5. Keracunan Logam Berat
Hal ini misalnya terjadi pada anak yang tinggal dekat dengan tambang batubara dan sebagainya.

6. Gangguan Pencernaan

Terdapat lebih dari 60% anak autistik mempunyai sistem pencernaan yang kurang sempurna. Makanan yang berasal susu sapi (casein) dan tepung terigu (gluten) tidak mampu tercerna dengan sempurna. Hal ini terjadi karena protein dari kedua makanan tersebut tidak semuanya berubah menjadi asam amino tetapi juga menjadi peptida yang seharusnya dibuang lewat urin, akan tetapi pada anak autistik peptida ini diserap kembali oleh tubuh dan masuk kedalam aliran darah, masuk ke otak dan diubah oleh reseptor opioid menjadi morfin yaitu casomorfin dan gliadorphin yang mempunyai efek merusak sel-sel otak dan membuat fungsi otak terganggu. Fungsi otak yang terkena biasanya adalah fungsi kognitif, reseptif, atensi, dan perilaku.

            Kelainan neurologis pd anak dengan Gangguan Autistik
1.      Berat otak keseluruhan lebih besar, tetapi ukuran Serebelum lebih kecil.
2.      a.Pertumbuhan otak terlalu cepat & abnormal pd sel saraf in-tegratif di korteks Frontalis.
b. Pematangan mielin terlalu cepat didaerah Frontalis & Tem-poralis.
c. Perkembangan sinaps yg tidak sempurna
Akibat kelainan tsb diatas à otak mementingkan strategi pemrosesan informasi lokal, bukan informasi sebagai suatu kesatuan à memperhatikan detail, bukan keseluruhan.

Struktur otak yg berhubungan dg interaksi sosial
1.      Amygdala, terletak didaerah sulkus temporalis superior & girus fusiformis à gangguan mengenali emosi wajah seseorang dimana kemampuan mengenal wajah tetap baik.
2.      Sulkus Temporalis Superior à bertanggung jawab pd GAZE à arah lirikan mata thd sesuatu objek yg bergerak à ggn joint attention & ggn untuk mengartikan perasaan dan maksud  orang lain, serta mismatch thd rangsangan audio – visual.
3.      Girus Fusiformis à bertanggung jawab thd fungsi pengenal- an wajah yg statik à ggn kontak mata dan interaksi.
4.      Peningkatan neurotransmiter (serotonin), dihasilkan oleh trombosit, à penghambatan sekresi lambung, rangsangan otot polos, produksi vasokonstriksi.



GEJALA:
Berikut ciri –ciri yang lazim terdapat pada anak autis bisa dijadikan sebagai pedoman identifikasi, antara lain:

1. Adanya gangguan dalam berkomunikasi verbal maupun non-verbal :
           
-          Terlambat bicara

-          Tidak ada usaha untuk berkomunikasi

-          Meracau dengan bahasa yang tidak dimengerti orang lain

-          Tidak mampu menangkap pembicaraan orang lain

-          Mengalami kesukaran dalam mengungkapkan perasaan dirinya

-          Bila kata-kata mulai diucapkan ia tak akan mengerti artinya

-          Banyak meniru atau membeo (echolalia)

-          Beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian, nada maupun kata- katanya, tanpa mengerti artinya

-          Bila menginginkan sesuatu ia menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan tangan tersebut melakukan sesuatu untuknya

2. Adanya gangguan dalam bidang interaksi sosial

-          Menghindari atau menolak kontak mata

-          Tidak mau menoleh jika dipanggil

-          Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang lain, lebih asyik bermain sendiri

-          Tidak dapat merasakan empati

-          Seringkali menolak untuk dipeluk

-          Bila didekati untuk diajak main ia malah menjauh


3. Adanya gangguan tingkah laku

Pada anak autistik terlihat adanya perilaku yang berlebihan dan kekurangan.

- Contoh perilaku yang berlebihan adalah adanya hiperaktivitas motorik, seperti tidak bisa diam, jalan mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas, melompat-lompat, berputar-putar, memukul-mukul pintu atau meja, mengulang-ulang suatu gerakan tertentu.

- Contoh perilaku yang kekurangan adalah duduk diam, bengong dengan tatap mata yang kosong, melakukan permainan yang sama/monoton dan kurang variatif secara berulang-ulang, sering duduk diam terpukau oleh sesuatu hal, misalnya bayangan dan benda yang berputar.

Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar, gelang karet atau apa saja yang terus dipegangnya dan dibawa kemana-mana


4. Adanya gangguan dalam perasaan/emosi

o   Tidak dapat ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain, misalnya melihat anak menangis ia tidak merasa kasihan melainkan merasa terganggu dan anak yang menangis tersebut mungkin didatangi dan dipukul
o   Kadang-kadang tertawa-tawa sendiri, menangis atau marah-marah tanpa sebab yang nyata.

o   Sering mengamuk tak terkendali, terutama bila tidak mendapatkan apa yang diinginkan, ia bisa menjadi agresif dan destruktif.

5. Adanya gangguan dalam persepsi sensoris

-          Mencium-cium atau mengigit mainan atau benda apa saja

-          Bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga

-          Tidak menyukai rabaan atau pelukan

-          Merasa sangat tidak nyaman bila memakai pakaian dari bahan yang kasar


6. Adanya ganggguan dalam pola bermain

-          Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya

-          Kurang/tidak kreatif dan imajinatif

-          Tidak bermain sesuai dengan fungsi mainan, misalnya sepeda dibalik dan rodanya diputar-putar

-          Senang akan benda-benda berputar, seperti kipas angin atau roda sepeda

EPIDEMIOLOGI
Sebagai sindrom, autisme dapat disandang oleh semua anak dari berbagai tingkat sosial dan kultur. Hasil survai dari beberapa negara menunjukkan bahwa 2 √ 4 anak per 10.000 anak berpeluang menyandang autis dengan rasio 3 : 1 untuk anak laki-laki dan perempuan; anak laki-laki lebih rentan menyandang sindrom autisme dibandingkan anak perempuan.
Para ahli memprediksi bahwa anak autis pada tahun 2010 akan mencapai 60 % dari seluruh populasi anak di seluruh dunia. Jumlah anak autis meningkat pesat di berbagai belahan dunia. Di Kanada dan Jepang pertambahannya mencapai 40 % sejak 1980. Di California sendiri pada tahun 2002 terdapat 9 kasus autis perhari. Di Amerika Serikat autisme terjadi pada 60.000 √ 15.000 anak di bawah 15 tahun. Kepustakaan lain menyebutkan prevalensi autis 10-20 kasus dalam 10.000 orang, bahkan ada yang mengatakan 1 di antara 1000 anak. Di Inggris pada awal tahun 2002 dilaporkan angka kejadian autis meningkat pesat, dicurigai 1 di antara 10 anak menderita autisme. Di Indonesia yang berpenduduk 200 juta, hingga saat ini belum diketahui persis jumlah anak autis namun diperkirakan dapat mencapai 150 -√200 ribu orang. Perbandingan laki dan perempuan 2,6 √ 4 : 1, namun pasien anak perempuan akan menunjukkan gejala yang lebih berat
PENATALAKSANAAN
Autisme merupakan gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable), namun bisa diterapi (treatable), maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya dapat berbaur dengan anakanak lain secara normal.
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Berat ringannya gejala atau kelainan otak.
b. Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
c. Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
d. Bicara dan bahasa, 20 % anak autis tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda.
e. Terapi yang intensif dan terpadu

Terapi yang terpadu
Penanganan/intervensi terapi pada anak autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4 – 8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasi dengan anak. Penanganan anak autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikolog, neurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.5
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain :
a. Terapi medikamentosa
b. Terapi psikologis
c. Terapi wicara
d. Fisioterapi

Terapi medikamentosa
Menurut dr. Melly Budiman (1998), pemberian obat pada anak harus didasarkan pada diagnosis yang tepat, pemakaian obat yang tepat, pemantauan ketat terhadap efek samping dan mengenali cara kerja obat. Perlu diingat bahwa setiap anak memiliki ketahanan yang berbeda-beda terhadap efek obat, dosis obat dan efek samping. Oleh karena itu perlu ada kehati-hatian dari orang tua dalam pemberian obat yang umumnya berlangsung jangka panjang.
Saat ini pemakaian obat diarahkan untuk memperbaiki respon anak sehingga diberikan obat-obat psikotropika jenis baru seperti obat-obat antidepressan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitor) yang bisa memberikan keseimbangan antara neurotransmitter serotonin dan dopamin. Yang diinginkan dalam pemberian obat ini adalah dosis yang paling minimal namun paling efektif dan tanpa efek samping.
Pemakaian obat akan sangat membantu untuk memperbaiki respon anak terhadap lingkungan sehingga ia lebih mudah menerima tata laksana terapi lainnya. Bila kemajuan yang dicapai cukup baik, maka pemberian obat dapat dikurangi bahkan dihentikan.
 Terapi psikologis
Dalam penanganan autisme, seringkali perkembangan kemampuan berjalan lambat dan mudah hilang. Umumnya intervensi difokuskan pada meningkatkan kemampuan bahasa dan komunikasi, self-help dan perilaku sosial dan mengurangi perilaku yang tidak dikehendaki seperti melukai diri sendiri (self mutilation), temper tantrum dengan penekanan pada peningkatan fungsi individu dan bukan “menyembuhkan” dalam arti mengembalikan anak autisme ke kondisi normal.

Terapi Wicara
Umumnya hampir semua anak autisme menderita gangguan bicara dan berbahasa. Oleh karena itu terapi wicara pada anak autisme merupakan keharusan. Penanganannya berbeda dengan penderita gangguan bicara oleh sebab lain. Anak yang mengalami hambatan bicara dilatih dengan proses pemberian reinforcement dan meniru vokalisasi terapis.

Fisioterapi
Pada anak autisme juga diberikan fisioterapi yang berfungsi untuk merangsang perkembangan motorik dan kontrol tubuh.

Alternatif terapi lainnya
Selain itu ada beberapa terapi lainnya yang menjadi alternatif penanganan anak autisme menurut pengalaman Sleeuwen ( 1996 ) , yaitu :
a. Terapi musik
Meliputi aktivitas menyanyi, menari mengikuti irama dan memainkan alat musik. Musik dapat sangat bermanfaat sebagai media mengekspresikan diri, termasuk pada anak autisme.
b. Son-rise program
Program ini berdasarkan pada sikap menerima dan mencintai tanpa syarat pada anak-anak autistik. Diciptakan oleh orangtua yang anaknya didiagnosa menderita autisme tetapi karena program latihan dan stimulasi yang intensif dari orangtua anak dapat berkembang tanpa tampak adanya tanda-tanda autistik.

c. Program Fasilitas Komunikasi
Meskipun sebenarnya bukan bentuk terapi, tetapi program ini merupakan metode penyediaan dukungan fisik kepada individu dalam mengekspresikan pikiran atau ide-idenya melalui papan alfabet, papan gambar, mesin ketik atau komputer.
d. Terapi vitamin
Anak autis mengalami kemajuan yang berarti setelah mengkomsumsi vitamin tertentu seperti B 6 dalam dosis tinggi yang dikombinasikan dengan magnesium, mineral dan vitamin lainnya.
e. Diet Khusus ( Dietary Intervention)
Keluhan autisme dipengaruhi dan diperberat oleh banyak hal, salah satunya karena manifestasi alergi. Renzoni A dkk tahun 1995 melaporkan setelah melakukan eliminasi/diet makanan beberapa gejala autisme tampak membaik secara bermakna. Proses alergi dapat mengganggu saluran cerna, gangguan saluran cerna itu sendiri akhirnya dapat mengganggu susunan saraf pusat dan fungsi otak. Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan sistem susunan saraf pusat saat ini sedang menjadi perhatian utama. Teori inilah juga yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku seperti autisme melalui Hipermeabilitas Intestinal atau dikenal dengan Leaky Gut Syndrome.
Secara patofisiologi kelainan Leaky Gut Syndrome tersebut salah satunya disebabkan karena alergi makanan. Salah satu teori yang menjelaskan gangguan
pencernaan berkaitan dengan gangguan otak adalah kekurangan enzim dipeptidilpeptidase IV (DPP IV) pada gangguan pencernaan ternyata menghasilkan zat caseo morfin dan glutheo morphin (semacam morfin atau neurotransmiter palsu) yang mengganggu dan merangsang otak.2

Bentuk Penatalaksanaan Lain
(sumber : www.emedicine.com (Autism, Author: James Robert Brasic, MD, MPH))
1.      Behavior modification (Modifikasi tingkah laku)
Terapi ini berguna untuk mengatasi tingkah laku anak yang tidak sesuai, berulang-ulang dan agresif.
a.       Terapi integrasi sensori
·         Dilakukan oleh terapis
·         Menyuruh pasien memegang material dengan tekstur berbeda
·         Mendengarkan bunyi/ suara yang berbeda
b.      Terapi bermain
·         Melibatkan interaksi anak dan orang dewasa
·         Berperan meningkatkan perkembangan emosi sehingga dapat memperbaiki kemampuan sosial dan belajar
c.       Social stories
·         Cerita didesain sedemikian rupa yang bertujuan agar pasien mengerti perasaan, pikiran dan sudut pandang orang lain serta dapat memahami dan mengatasi perasaannya sendiri
2.      Communication therapy
·         Terapi bicara
·         Picture exchange communication system (PECS)
Pasien diajarkan berkomunikasi menggunakan gambar yang mewakili pikiran, aktivitas dan istilah. Tujuan terapi ini yaitu agar pasien dapat menyampaikan permintaan, kebutuhan dan keinginannya kepada orang lain melalui gambar
3.      Auditory integration training
·         Pasien diminta mendengarkan suara melalui headphone.
·         Tujuannya untuk meningkatkan sensitivitas terhadap suara dengan frekuensi yang berbeda
4.      Dietary Modifications
·         Kurangi gluten ( gandum, oat, rye) dan kasein ( terdapat dalam dairy product)
·         Konsumsi suplemen seperti vitamin B12 dan magnesium serta minyak hati ikan cod
5.      Exercise
6.      Konsultasi metabolic
·         Konsultasi metabolic berperan untuk mengindentifikasi defisiensi yang ada, berupa konsultasi otolaringologis, opthalmologis, neurologis dan neuropsikologis

Tutorial Blok 18

Tidak ada komentar:

Posting Komentar